Populasi Badak Jawa dan Sumatra dalam Bahaya Kepunahan
Populasi badak Jawa dan badak Sumatra saat ini menghadapi ancaman serius, berada di tahap kritis menuju kepunahan. Kedua spesies satwa langka ini terdaftar sebagai 'critically endangered' dalam daftar IUCN.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Keresahan Masyarakat
Diperkirakan jumlah badak Jawa tidak lebih dari 80 ekor, yang sepenuhnya hidup di Taman Nasional Ujung Kulon. Sementara itu, badak Sumatra tersisa kurang dari 50 individu, tersebar di beberapa kantong habitat di Sumatra.
Menurut drh Dedy Surya Pahlawan, Koordinator Dokter Hewan Suaka Rhino Sumatera (SRS) Yayasan Badak Indonesia, ancaman utama bagi kedua spesies ini termasuk perburuan liar dan kehilangan habitat. Perilaku manusia semakin memperburuk kondisi mereka yang sudah rentan ini.
Berdasarkan data, belum ada langkah yang cukup efektif untuk meningkatkan angka reproduksi kedua spesies ini di alam liar, yang semakin memperparah situasi. Pemindahan badak ke area yang lebih terbatas akibat meningkatnya jumlah penduduk di Pulau Jawa juga menjadi masalah signifikan.
Selain itu, sebelum tahun 2023, terdapat laporan bahwa lebih dari 20 ekor badak Jawa hilang akibat perburuan. Kehilangan habitat akibat ekspansi manusia juga terus berlanjut, sehingga mengurangi ruang gerak badak.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan yang Mengancam Pengguna Apple
Badak Sumatra, yang dikenal hidup secara soliter, menghadapi kesulitan dalam bereproduksi karena minimnya interaksi. Ini menjadi tantangan besar dalam upaya melestarikan mereka, terutama dalam situasi saat ini.
Dedy menjelaskan bahwa usaha konservasi yang dilakukan sejak tahun 1985-1991 untuk mengembangbiakkan spesies ini di kebun binatang berhasil menyelamatkan 46 badak. Namun, banyak di antaranya tidak bertahan di penangkaran.
Dengan kondisi yang ada, penting untuk mencari solusi yang lebih efektif agar kedua spesies ini tidak punah di masa depan.
Badak berfungsi lebih dari sekadar hewan besar; mereka memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Dengan memakan berbagai jenis vegetasi dan menyebarkan biji, badak turut dalam regenerasi tumbuhan.
Hal ini menciptakan habitat yang lebih baik bagi hewan lain, sehingga penting untuk melestarikan populasi badak. Dedy menekankan bahwa menjaga populasi badak adalah upaya untuk melestarikan ekosistem hutan secara keseluruhan.
"Badak ini ternyata bila memakan pucuk daun dan buah-buahan kemudian menyebarkan. Ia memberikan kesempatan tumbuhan-tumbuhan itu untuk tumbuh dan tersebar di tempat-tempat lain yang dijadikan pakan untuk hewan lain," tegas Dedy.
Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Ahmad Sahroni setelah Penjarahan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: