Mengatasi FOMO: Dampak dan Solusi di Era Digital
FOMO, atau fear of missing out, telah menjadi perasaan umum di era digital saat ini, di mana banyak orang merasa tertekan karena takut ketinggalan informasi atau pengalaman menarik dari orang lain.
Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Ahmad Sahroni setelah Penjarahan
Tekanan ini tidak hanya muncul di media sosial, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari, yang berpengaruh pada kesehatan mental penggunanya.
FOMO adalah istilah yang menggambarkan perasaan cemas ketika seseorang merasa ada hal-hal menarik yang terjadi di luar dirinya.
Perasaan ini seringkali dipicu oleh interaksi di media sosial, di mana individu melihat aktivitas yang dilakukan teman-teman mereka.
Dalam banyak kasus, FOMO berakar dari perbandingan sosial yang tidak sehat, yang dapat membuat seseorang merasa hidup mereka kurang memuaskan.
Menurut penelitian, FOMO dapat meningkatkan stres dan kecemasan berkelanjutan, serta mengganggu konsentrasi dan kualitas hidup.
Salah satu dampak signifikan dari FOMO adalah perasaan depresi yang dapat muncul dari rasa ketinggalan.
Baca juga: Ketegangan di Rapat Koordinasi Komisi XIII DPR RI Mengenai Royalti Lagu
Mereka yang sering merasa terpinggirkan cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah, yang bisa berujung pada gangguan mental serius.
Stres berkepanjangan yang muncul akibat FOMO juga dapat memicu kecemasan dan gangguan tidur.
Berbagai studi menunjukkan bahwa pengidap FOMO lebih cenderung menggunakan media sosial secara berlebihan, menciptakan siklus di mana mereka merasa terasing meskipun terhubung secara digital.
Mengatasi FOMO dimulai dengan menyadari perasaan ini dan mengenali tanda-tanda kecemasan yang muncul akibatnya.
Meditasi dan mindfulness terbukti daftar sebagai cara efektif dalam meredakan kecemasan terkait FOMO.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: