Penemuan Spesies Tikus Langka di Papua Nugini
Awal tahun 2025 menjadi momen penting dalam dunia penelitian biologi saat seorang peneliti asal Ceko, František Vejmělka, menemukan spesies tikus langka di Papua Nugini.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Alexander Isak
Tikus wol Subalpin raksasa (Malomys istapantap) ini sebelumnya hanya diketahui lewat spesimen museum dan tidak terdeteksi di alam liar selama hampir tiga dekade.
František Vejmělka, yang berasal dari Biology Centre CAS dan University of South Bohemia, melakukan ekspedisi enam bulan di pegunungan Papua Nugini.
Timnya mencapai ketinggian sekitar 3.700 meter di atas permukaan laut, tujuan mereka adalah menemukan dan mendokumentasikan spesies langka.
Vejmělka berhasil mengabadikan momen berharga tersebut melalui gambar dan video yang menunjukkan tikus wol Subalpin di habitatnya.
Ia menyatakan, 'Sungguh menakjubkan bahwa hewan sebesar dan seindah ini masih sangat kurang dipelajari. Berapa banyak lagi yang bisa ditemukan tentang keanekaragaman hayati pegunungan tropis?'
Dalam penelitiannya, Vejmělka mendapatkan bantuan dari masyarakat adat dan pemburu setempat di Papua Nugini.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbarunya dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Chill Fan
Ia menegaskan, 'Jika bukan karena para pemburu pribumi yang menemani saya di pegunungan dan membantu saya menemukan hewan-hewan tersebut, saya tidak akan pernah bisa mengumpulkan data ini.'
Kolaborasi ini memperlihatkan pentingnya pengetahuan lokal dalam penelitian ilmiah, terutama untuk mengumpulkan data tentang spesies langka.
Hal tersebut juga menandakan pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati di wilayah-wilayah yang belum banyak dijelajahi.
Mallomys istapantap, yang dapat mencapai panjang sekitar 85 cm dan berat hingga 2 kg, merupakan tikus berbuluh tebal yang menghuni daerah pegunungan berkabut.
Karakteristik nokturnalnya menjadikannya sulit ditemukan di siang hari, di mana tikus ini biasanya bersembunyi di lubang atau di antara ranting pohon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: