BRIN Kembangkan Teknologi Deteksi Cepat TBC untuk Mengatasi Krisis Kesehatan di Indonesia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan teknologi deteksi cepat untuk Tuberkulosis (TBC) yang berpotensi merubah cara skrining penyakit ini di Indonesia.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat Populer di Kalangan Pecinta Kebugaran
Teknologi ini, yang dikenal sebagai Tuberculosis Colorimetric Sensor, memanfaatkan perubahan warna untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri penyebab TBC.
Tuberkulosis (TBC) menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia, dengan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia.
Tingginya kasus TBC yang resistan terhadap obat serta keterkaitan dengan infeksi HIV memperburuk situasi dan menuntut adanya strategi deteksi dini yang lebih efisien.
Baca juga: Denza Luncurkan Versi Terbaru D9 dengan Harga Terjangkau di China
Peneliti dari Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, Ni Luh Wulan Septiani, berperan penting dalam mengembangkan sensor deteksi cepat tersebut sejak tahun 2024.
Sistem ini dirancang untuk memunculkan perubahan warna saat biomarker bakteri penyebab TBC, Mycobacterium tuberculosis, terdeteksi, sehingga menawarkan solusi praktis dalam skrining.
Saat ini, prosedur standar deteksi TBC mengandalkan uji kultur bakteri yang meskipun akurat, memerlukan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil.
WHO merekomendasikan penggunaan metode deteksi cepat berbasis molekuler yang mampu membaca DNA Mycobacterium tuberculosis dalam waktu dua jam, namun masih dianggap terlalu lama dan membutuhkan reagen yang mahal.
Baca juga: Menggali Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: