Nyeri Dada: Tanda Awal Masalah Jantung yang Perlu Diwaspadai
Nyeri dada sering kali menjadi keluhan yang mengindikasikan masalah kesehatan serius, terutama terkait jantung. Tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan untuk menghindari komplikasi berbahaya.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Alexander Isak
Dokter spesialis kardiovaskular, dr. Birry Karim, Sp.PD, KKV, menjelaskan bahwa meminum aspirin bisa menjadi pertolongan pertama ketika nyeri dada mendadak muncul.
Nyeri dada dapat memiliki beragam penyebab, sehingga kesigapan dalam menanggapi gejala ini harus menjadi prioritas. Jika nyeri tidak diatasi dalam waktu 15 menit, intensitas nyeri dapat meningkat, yang membuat pasien mencari posisi tertentu untuk mengurangi ketidaknyamanan, dikenal dengan istilah Levine sign.
Dalam seminar yang diselenggarakan di Rumah Sakit Medistra, dr. Birry menjelaskan, 'Jika mendadak terjadi nyeri dada, pertolongan pertama bisa dengan meminum aspirin.' Ini menjadi langkah awal yang penting sebelum mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Namun, jika aspirin tidak tersedia, tindakan terbaik adalah segera menuju Unit Gawat Darurat (UGD). Menurut dr. Birry, biopsi EKG harus siap dibaca agar dokter dapat menginterpretasikan langkah-langkah pengobatan selanjutnya.
Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Ahmad Sahroni setelah Penjarahan
Dokter perlu melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah nyeri dada yang dialami pasien disebabkan oleh masalah jantung atau tidak. 'Apakah dia cardiac chest pain atau non-cardiac chest pain? Apakah nyeri dada karena jantung, atau bukan?' ungkap dr. Birry.
Kondisi non-jantung seperti asam lambung dan kontraksi otot juga dapat menyebabkan rasa nyeri di dada. Dalam beberapa kasus, membawa beban berat dapat menjadi penyebab ketidaknyamanan ini.
Untuk memastikan diagnosis yang tepat, pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit menjadi krusial. Memahami penyebab nyeri dada dapat membantu menentukan tingkat risiko yang dihadapi pasien.
Serangan jantung yang sering dianggap sebagai masalah orang tua kini mulai bergeser ke populasi yang lebih muda. Dr. Birry menekankan, 'Hampir 70 persen usia rata-rata pasien serangan jantung adalah orang relatif muda, yaitu usia 30-35 tahun.'
Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa sekitar 800.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit kardiovaskular. Menurut data WHO, penyakit ini merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia, termasuk stroke dan hipertensi.
Penting untuk menyadari bahwa 90 persen penyebab penyakit kardiovaskular berhubungan dengan gaya hidup, dan hanya 10 persen yang bersifat genetik. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup yang lebih sehat sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko mengidap penyakit jantung.
Baca juga: Menunjukkan Cinta Melalui Tindakan Kecil untuk Pasangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: