Fenomena FOMO: Ketidaknyamanan di Era Digital
FOMO atau Fear of Missing Out kian menjadi topik hangat di kalangan masyarakat modern. Istilah ini merujuk pada rasa cemas relasional saat kita merasa tertinggal dalam pengalaman dan informasi orang lain.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan yang Mengancam Pengguna Apple
Dengan popularitas media sosial, tekanan untuk selalu update pun meningkat. Banyak orang sekarang merasa sulit menikmati momen yang ada, terjebak dalam kecemasan untuk tidak ketinggalan.
FOMO adalah ketidaknyamanan yang terjadi ketika individu merasa takut kehilangan pengalaman berharga. Situasi ini semakin diperburuk oleh kehadiran media sosial yang memungkinkan orang untuk melihat aktivitas teman secara langsung.
Di tahun 2004, Dr. Dan Herman memperkenalkan istilah ini, yang sejak saat itu berkembang menjadi kondisi yang lebih luas. Kecemasan sosial akibat FOMO kini menjadi perhatian banyak orang.
FOMO dapat terjadi dalam berbagai konteks, seperti acara sosial atau pengalaman liburan. Hal ini seringkali membuat seseorang merasa tidak puas dengan kehidupannya meskipun tidak ada yang salah.
Baca juga: Microsoft Perkenalkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word ke OneDrive
Salah satu efek paling signifikan dari FOMO adalah meningkatnya kecemasan dan stres. Rasa tekanan untuk terhubung bisa mengganggu kesehatan mental dan emosional seseorang.
Dalam penelitian yang diterbitkan oleh Journal of Social and Personal Relationships, ditemukan bahwa individu dengan FOMO mengalami tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Mereka lebih cenderung merasa terasing meskipun berada di lingkungan sosial.
Selain itu, FOMO dapat menyebabkan perilaku tidak sehat seperti menghabiskan waktu berlebihan di media sosial, yang bisa mengganggu keseimbangan emosi seseorang.
Untuk mengatasi FOMO, salah satu cara yang dianjurkan adalah membatasi waktu penggunaan media sosial. Mengurangi frekuensi melihat aktivitas orang lain bisa membantu kita lebih fokus pada diri sendiri.
Memahami nilai pengalaman yang kita miliki juga sangat penting. Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, kita perlu menghargai setiap momen yang ada dalam hidup kita.
Mengintegrasikan aktivitas offline dalam rutinitas harian, seperti berolahraga atau bersosialisasi secara langsung, dapat membantu meringankan kecemasan dan membuat kita merasa lebih puas.
Baca juga: Olahraga Low Impact: Solusi Ideal untuk Pemula Memulai Kebiasaan Sehat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: