Alasan Negara Arab Mengimpor Pasir Meski Sumber Melimpah di Sekitar
Meskipun dikelilingi oleh gurun pasir yang luas, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tetap mengandalkan impor pasir untuk memenuhi kebutuhan konstruksi mereka.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan ’17+8′ Usai Dihujat Soal Pilihan Politik
Data menunjukkan negara-negara tersebut mendapatkan pasokan pasir dari negara seperti Australia, China, dan Belgia.
Pasir gurun, meskipun melimpah, memiliki butiran yang terlalu bulat dan halus akibat proses erosi yang berlangsung selama ribuan tahun.
Kondisi ini menjadikan pasir gurun tidak ideal untuk pembuatan beton, yang membutuhkan butiran kasar dan bersudut agar dapat mengikat dengan lebih baik.
Oleh karena itu, pasir yang diperlukan untuk proyek konstruksi biasanya berasal dari dasar sungai, danau, dan laut yang menawarkan butiran lebih bersudut.
Keberadaan pasir yang melimpah dalam gurun justru menjadi tantangan dalam proyek Vision 2030 Arab Saudi, yang ditujukan untuk mengembangkan kota futuristik seperti NEOM.
Australia telah menjadi salah satu eksportir pasir terbesar di dunia, dengan nilai ekspor mencapai US$273 juta pada tahun 2023.
Baca juga: Microsoft Perkenalkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word ke OneDrive
Arab Saudi, meskipun nilainya kecil, tercatat mengimpor pasir senilai sekitar US$140 ribu dari Australia pada tahun yang sama.
Ini menandakan ketergantungan strategis Arab Saudi terhadap kualitas pasir yang dibutuhkan dalam megaproyek berskala besar mereka.
Proyek seperti NEOM dan The Line memerlukan pasokan beton dalam jumlah besar yang tidak bisa dipenuhi oleh pasir lokal.
Kondisi ini bukan hanya dialami oleh Arab Saudi; Uni Emirat Arab juga menghadapi masalah serupa dengan ketergantungan pada pasir impor.
Contoh nyata adalah pembangunan Burj Khalifa, di mana pasir lokal dinyatakan tidak layak digunakan akibat kualitasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: