Inovasi Rahim Buatan Diharapkan Tingkatkan Keselamatan Bayi Prematur
Kelahiran prematur menjadi penyebab utama kematian bayi baru lahir di dunia, menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Untuk mengatasi tantangan ini, riset tentang rahim buatan tengah dilakukan untuk meningkatkan peluang hidup bagi bayi yang lahir terlampau dini.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan ’17+8′ Usai Dihujat Soal Pilihan Politik
Dengan adanya rahim buatan, peluang bertahan hidup bayi yang lahir pada usia kehamilan 24 hingga 28 minggu diperkirakan akan meningkat signifikan. Indonesia sendiri mencatat sekitar 675.700 kelahiran prematur setiap tahunnya.
Bayi prematur sering kali menghadapi risiko kesehatan serius, termasuk masalah pernapasan dan infeksi. Menurut data, semakin awal bayi lahir, semakin besar pula tantangan yang dihadapi, dengan Indonesia menempati urutan kelima dalam angka kelahiran prematur di dunia.
Keberadaan cadangan nutrisi yang rendah dan sistem tubuh yang belum matang meningkatkan risiko malnutrisi dan masalah perkembangan jangka panjang. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang inovatif untuk mendukung kelangsungan hidup bayi-bayi yang lahir terlalu awal.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone
Rahim buatan yang dikenal sebagai AquaWomb dikembangkan oleh tim dokter di Rumah Sakit Universitas Radboud Nijmegen, Belanda. Perangkat ini dirancang untuk meniru fungsi rahim dengan menggunakan cairan ketuban buatan yang dipanaskan, memfasilitasi bayi untuk terhubung dengan plasenta buatan.
Myrthe van der Ven, co-founder AquaWomb, menyatakan, "Kami ingin mempertahankan fisiologi janin, sirkulasi janin, kami ingin menjaganya tetap utuh… sehingga janin dapat berkembang beberapa minggu lagi." Penelitian menunjukkan bahwa tambahan empat minggu dalam rahim buatan dapat meningkatkan kelangsungan hidup bayi prematur secara signifikan.
Proses melahirkan bayi melalui operasi caesar merupakan syarat untuk menggunakan rahim buatan ini. Setelah dilahirkan, bayi akan langsung dimasukkan ke dalam AquaWomb untuk menghindari risiko paparan udara yang dapat merusak paru-paru.
Dokter anak-neonatolog Willem de Boode menekankan pentingnya mencegah pernapasan spontan pada bayi, sehingga bayi tidak bernapas udara, melainkan berada di dalam cairan amnion buatan. Hal ini memerlukan penghubungan segera dengan plasenta buatan untuk memperoleh pasokan oksigen dan nutrisi yang memadai.
Baca juga: Ketegangan di Rapat Koordinasi Komisi XIII DPR RI Mengenai Royalti Lagu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: