Kesulitan Evakuasi Jenazah Pendaki Gunung Slamet di Tengah Cuaca Buruk
Evakuasi jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan, pendaki Gunung Slamet yang meninggal, mengalami banyak hambatan akibat cuaca ekstrem dan medan yang berat.
Baca juga: Kemenperin Belum Terima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17 dari Apple
Proses pencarian dimulai setelah ia hilang selama 17 hari di jalur punggungan Gunung Malang.
Proses evakuasi dilanjutkan pada Kamis, 15 Januari 2026, setelah sempat terhenti, dengan jenazah Syafiq ditemukan di area Batu Watu Langgar dalam kondisi menyedihkan.
Berbagai tim SAR berupaya mengakses lokasi yang terisolasi, namun cuaca buruk dan medan curam menjadi tantangan utama.
Anggota Tim Wanadri menyatakan, 'Sejak pagi tim belum makan dan kondisi medan yang curam dan terjal serta cuaca hujan badai,' menunjukkan kesulitan yang dihadapi.
Dengan persiapan lebih matang, evakuasi kini memanfaatkan alat khusus seperti tandu basket untuk memastikan pengangkutan jenazah aman.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam di Kota
Tim gabungan juga mengambil langkah untuk melakukan evakuasi secara estafet agar lebih efisien.
Jalur yang digunakan adalah Pos Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, demi mempermudah akses menuju lokasi penemuan.
Relawan dari Tim Wanadri, Arie, menambahkan, 'Proses evakuasi akan dilakukan secara estafet, melalui jalur Pos Dipajaya,' memberi harapan akan keberhasilan evakuasi.
Suasana duka menyelimuti rumah orang tua Syafiq di Kelurahan Kramat Utara, dengan tenda dan kursi plastik disiapkan untuk para pelayat.
Tri Winarno, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kota Magelang, menyatakan bahwa keluarga memutuskan untuk memindahkan lokasi pemakaman.
Meskipun awalnya jenazah direncanakan dimakamkan di Pemakaman Sambung Lor, kini akan dipindahkan ke TPU Sidotopo, Kelurahan Kedungsari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: