Fenomena Penipuan Asmara di Indonesia: Memahami Love Scam dan Dampaknya
Penipuan yang mengatasnamakan cinta, atau love scam, semakin mengancam masyarakat Indonesia, menciptakan krisis kepercayaan dalam hubungan antarpribadi. Recent findings dari aparat Imigrasi Indonesia mengungkap jaringan internasional yang mengoperasikan penipuan ini dari Jakarta.
Baca juga: Pentingnya Self Love untuk Hubungan yang Sehat
Psikolog Mellyana Setyowati menyebutkan love scam tak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga membangun relasi emosional yang tampak genuine. Tren ini mencerminkan tantangan baru di dunia digital yang terus berkembang.
Love scam adalah bentuk penipuan yang menggunakan teknologi untuk menciptakan ikatan emosional dengan korban. Menurut Mellyana Setyowati, "Love scam merupakan tindak pidana penipuan uang dengan menggunakan teknologi komunikasi massa di era teknologi informasi digital yang sedang marak."
Pelaku memanfaatkan proses yang bertahap untuk membangun hubungan, sehingga korban merasa terikat secara emosional. Penipuan ini berbeda dari jenis penipuan lain seperti investasi bodong, karena menggunakan elemen emosional yang lebih mendalam.
Selain itu, banyak korban berasal dari latar belakang emosional yang rentan, yang membuat mereka lebih mudah terjebak. Mellyana membahas bagaimana pelaku menciptakan ikatan yang kuat sehingga korban merasa terperangkap dalam hubungan semu.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Keresahan Masyarakat
Kondisi emosional yang rapuh membuat banyak korban love scam merupakan orang yang merasa kesepian atau baru saja mengalami putus cinta. Mellyana menekankan, "Kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian membuat individu lebih rentan menjadi korban penipuan emosional ini."
Saat pelaku memberikan perhatian intens, ini dapat merangsang pelepasan zat kimia otak yang membuat korban merasakan cinta meskipun hubungan sebenarnya tidak realistis. Dalam hal ini, kemampuan berpikir objektif korban dapat terganggu, membuat mereka mengabaikan tanda-tanda bahaya yang jelas.
Faktor kognitif juga memainkan peranan penting dalam pemikiran korban. Bias kognitif, seperti confirmation bias dan optimism bias, sering membuat korban melihat hanya bukti yang mendukung harapan mereka, menolak kemungkinan bahwa mereka dapat tertipu.
Pelaku love scam biasanya sangat terampil dalam menciptakan ilusi cinta yang ideal sambil mengelola ekspektasi korban. Mereka menjalin hubungan emosional dengan janji manis dan kisah hidup dramatis, sehingga menciptakan sebuah fantasi yang membuat korban tetap terperangkap.
Mellyana menyatakan, "Manipulasi dilakukan secara bertahap hingga korban merasa tidak enak menolak." Ini dapat menyebabkan korban merasa berutang budi dan takut kehilangan hubungan yang dianggap berharga.
Pelaku juga sering menggunakan strategi love bombing, memberikan pujian berlebihan dan komitmen instan. "Ketika korban mulai meragukan keseriusan pelaku, sering kali pelaku justru menanamkan rasa malu untuk menjaga agar korban tidak berbagi dengan orang lain," ungkap Mellyana.
Baca juga: Dukungan Menteri Keuangan Sri Mulyani Pasca Penjarahan Rumahnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: