Dampak Berpuasa Terhadap Perubahan Mood: Apa yang Perlu Diketahui?
Saat bulan puasa, banyak individu melaporkan perubahan mood yang signifikan dan tiba-tiba. Fenomena ini umumnya terjadi karena perubahan dalam kebiasaan makan dan rutinitas harian.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan ’17+8′ Usai Dihujat Soal Pilihan Politik
Perubahan pola makan, kurang tidur, dan tekanan psikologis dianggap sebagai faktor penyebab utama mengapa seseorang menjadi lebih sensitif atau cepat marah di awal puasa.
Di bulan puasa, waktu makan yang sebelumnya teratur berubah drastis dari siang ke malam. Hal ini berdampak langsung terhadap metabolisme tubuh, yang sering kali menyebabkan rasa lemas dan fluktuasi suasana hati.
Asupan gizi saat berbuka dan sahur sangat berpengaruh terhadap mental dan fisik. Jika pola makan tidak seimbang, energi tubuh dapat menurun, yang berpotensi menghasilkan mood yang kurang stabil.
Baca juga: Dolby Vision 2: Menghadirkan Inovasi Memukau dalam Teknologi Visual TV
Banyak orang mengalami perubahan dalam jadwal tidur selama bulan puasa, sering kali menunggu waktu sahur. Akibatnya, waktu tidur menjadi berkurang dan berdampak negatif pada keseimbangan emosi.
Studi menunjukkan bahwa individu yang kurang tidur cenderung mengalami fluktuasi mood yang lebih drastis. Konsistensi tidur yang hilang dapat berkontribusi pada tingkat stres yang lebih tinggi.
Bulan puasa sering kali dipenuhi harapan dan ekspektasi dari lingkungan sosial. Tekanan untuk menjalankan ibadah dengan sempurna dapat meningkatkan stres bagi beberapa orang.
Interaksi sosial saat berbuka puasa juga dapat menciptakan rasa kecemasan, terutama jika kegiatan tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi yang ada. Hal ini bisa menjadi faktor tambahan dalam perubahan mood di tahap awal puasa.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan yang Mengancam Pengguna Apple
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: