Kematian James Van Der Beek: Sisi Gelap Kanker Usus Besar yang Harus Diketahui
James Van Der Beek, aktor ternama, meninggal dunia pada 11 Februari 2026 akibat kanker usus besar stadium 3, yang mengingatkan akan bahaya kanker kolorektal.
Baca juga: Kota-Kota di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Istrinya, Kimberly Van Der Beek, yang mengumumkan berita duka ini, menarik perhatian pada masalah kesehatan serius yang kian banyak diderita orang.
James Van Der Beek pernah bercerita dalam wawancaranya dengan People pada November 2024 bahwa gejala awal kanker usus besar sering kali diabaikan. Ia merasakan perubahan dalam kebiasaan buang air besar, yang ia anggap disebabkan oleh pola makan atau konsumsi kopi.
Menurut laporan dari WHO, kanker usus besar sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga potensi bahayanya meningkat jika tidak terdeteksi. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi perubahan pola buang air besar, darah dalam tinja, nyeri perut yang tidak kunjung hilang, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Mengingat bahwa kanker kolorektal merupakan penyebab kematian kedua akibat kanker di seluruh dunia, kewaspadaan terhadap gejala ini sangat penting.
Baca juga: Denza Luncurkan Versi Terbaru D9 dengan Harga Terjangkau di China
Kanker usus besar sering kali berawal dari polip jinak di lapisan dalam usus, yang dapat berkembang menjadi kanker dalam waktu sekitar 10 tahun jika tidak diangkat. Penting untuk memahami bahwa deteksi dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
Cleveland Clinic merekomendasikan tes skrining seperti kolonoskopi untuk mendeteksi polip sebelum berubah menjadi kanker. Screening ini seharusnya dilakukan secara rutin, terutama bagi individu yang berisiko.
Deteksi dini melalui pemeriksaan dapat berperan penting dalam mengurangi angka kematian akibat kanker usus besar, mengingat banyaknya kasus yang terlihat terlambat.
Berdasarkan data WHO, ada sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker usus besar, antara lain usia di atas 50 tahun, riwayat keluarga kanker, serta pola makan yang tidak sehat. Kebiasaan hidup seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan juga berkontribusi pada peningkatan risiko.
Menyiasati faktor-faktor risiko ini sangat mungkin dilakukan melalui gaya hidup sehat. WHO merekomendasikan agar individu mengonsumsi makanan bergizi yang kaya serat, rutin berolahraga, dan melakukan skrining secara teratur untuk menjaga kesehatan dan mendeteksi kanker lebih dini.
Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, kita dapat membantu menurunkan risiko kanker kolorektal dan menjaga kesehatan yang lebih baik.
Baca juga: Uya Kuya Jadi Sorotan Setelah Rumahnya Dijenangi Massa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: