Senin, 23 JUNI 2025 • 04:43 WIB

Brain Rot: Masa Kini dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Mental

Author

Generated by Journalist AI

shelifestyle.id – Brain rot atau pembusukan otak kini semakin jadi perhatian kalangan ahli, terutama bagi mereka yang sering menonton konten sepele di media sosial. Aktivitas ini diyakini bisa berdampak negatif pada kesehatan mental, khususnya bagi anak-anak dan remaja yang sedang berkembang.

Apa Itu Brain Rot?

Brain rot adalah istilah yang menggambarkan kerusakan mental akibat konsumsi konten yang tidak menantang. Istilah ini dipilih sebagai Oxford Word of the Year pada tahun 2024 untuk menunjukkan dampak negatif dari media sosial terhadap kesehatan mental.

Menurut Costantino Iadecola, Ketua Feil Family Brain and Mind Research Institute, perkembangan otak anak memerlukan keragaman pengalaman. “Masalah utamanya berkaitan dengan anak-anak karena perkembangan otak membutuhkan keragaman paparan,” jelasnya.

Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan fungsi kognitif, termasuk gangguan memori jangka pendek dan berkurangnya rentang perhatian. Dampak negatif ini dirasakan banyak orang, dengan gejala yang mirip dengan kelelahan.

Gejala Brain Rot dan Risikonya

Gejala dari brain rot antara lain kabut otak, kelelahan mental, dan impulsif yang berlebihan. Marci Cottingham, seorang profesor madya sosiologi, sering mencatat bahwa orang merasakan dampak ini setelah berjam-jam menggunakan aplikasi seperti TikTok.

“Orang-orang dapat membicarakan (kerusakan otak) dalam konteks seperti, ‘Oh, konten itu sangat buruk. Saya tidak percaya Anda menontonnya karena itu akan merusak otak Anda,'” ungkap Cottingham.

Penelitian yang diterbitkan di Brain Sciences menunjukkan bahwa waktu layar yang berlebihan dapat mengelilingi individu pada lingkaran masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Strategi Mengurangi Risiko Brain Rot

Untuk mengurangi risiko brain rot, masyarakat disarankan untuk memantau dan mengatur waktu penggunaan layar. Iadecola merekomendasikan alternatif yang lebih konstruktif, seperti melibatkan diri dalam aktivitas non-digital.

“Sertakan aktivitas nondigital, seperti menghabiskan waktu di luar ruangan, menulis, dan bermain musik,” sarannya. Aktivitas ini dapat membantu meningkatkan kesehatan mental dan kreativitas.

Dewasa juga disarankan untuk mencatat waktu layar mereka dan memperbaiki kebiasaan dengan mengganti kegiatan tidak produktif dengan membaca buku, yang sering dianggap sebagai ‘anti-internet.’

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU