Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X baru-baru ini menekankan urgensi perbaikan dalam pengelolaan makanan bergizi gratis yang berisiko basi dan menyebabkan keracunan. Pemberian pidato tersebut berlangsung saat acara gerakan pangan murah yang diselenggarakan oleh DPKP DIY.
Baca juga: Kemenperin Belum Terima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17 dari Apple
Dalam sambutannya, Sultan membagikan pengalaman pribadinya saat memasak di masa tanggap darurat erupsi Merapi, mengisyaratkan bahwa pengelolaan makanan tidak sekompleks yang dipikirkan banyak orang.
Pengalaman Memasak di Dapur Umum
Sri Sultan menjelaskan bahwa pemahaman terhadap bahan makanan yang mudah basi sangat penting. "Sebetulnya nggak rumit, kenapa keracunan?" tuturnya, menunjukkan bahwa masalah lebih kepada metode dan waktu dalam memasak.
Beliau juga menceritakan pengalamannya selama erupsi Merapi pada tahun 2010, saat ia memimpin kegiatan dapur umum. Ia menekankan perlunya efisiensi dalam memasak agar kualitas pangan tetap terjaga.
Sultan menegaskan, "Bisa nggak, 02.30 itu jangan masak sayur? Ya kan?" Ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap jenis makanan dan waktu penyajiannya agar terhindar dari keracunan.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dalam Acara Seni Melawan Tirani
Pentingnya Pengelolaan Makanan
Sultan HB X menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam pengelolaan makanan pada situasi darurat. Ia berpendapat menu yang disiapkan sore hari tidak seharusnya disajikan di pagi hari jika tidak dikelola dengan baik.
Beliau menjelaskan bahwa ketika memasak, air bisa menjadi indikasi jika makanan sudah tidak layak konsumsi. "Udah itu pasti," katanya menandakan bahwa perhatian terhadap kualitas sangat diperlukan.
Sultan juga mengingatkan pihak-pihak terkait untuk memperbaiki prosedur penyiapan makanan guna mencegah insiden keracunan yang tidak diinginkan.
Menciptakan Standar Penyajian Pangan
Berkenaan dengan isu ini, Sultan mendorong penerapan standar yang lebih baik dalam penyajian makanan bergizi untuk masyarakat. Hal ini sangat penting untuk memastikan keselamatan dalam program pangan bersubsidi.
Ia juga berpesan agar penyajian pangan dilakukan dengan pemahaman mengenai risiko dan manajemen waktu yang efektif. Dengan demikian, kualitas makanan yang disajikan tidak diragukan.
Sultan menutup pembicaraannya dengan harapan agar pengalaman buruk tidak terulang kembali, serta mendorong tindakan preventif dalam menjamin kualitas makanan yang disajikan.
Baca juga: Menggali Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: