Fenomena putus asa dalam mencari pekerjaan semakin menjadi masalah serius di Indonesia, dengan lebih dari 6.000 lulusan pascasarjana S2 dan S3 merasa tidak berdaya. Laporan terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkapkan lonjakan signifikan dalam jumlah individu yang menyerah mencari pekerjaan.
Baca juga: Tips Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang yang Cozy
Laporan berjudul 'Membaca Sinyal Putus Asa di Pasar Kerja Indonesia' mencatat bahwa meskipun proporsi lulusan yang menyerah terbilang kecil, keberadaan mereka menunjukkan adanya masalah struktural dalam pasar kerja yang tidak dapat terdeteksi oleh indikator konvensional.
Tingkat Putus Asa di Kalangan Lulusan Pendidikan Tinggi
Laporan LPEM FEB UI mencatat bahwa sekitar 45.000 lulusan S1 dan lebih dari 6.000 lulusan S2 dan S3 terklasifikasi dalam kategori menganggur dan putus asa. Ini mencerminkan bahwa tantangan ketenagakerjaan tidak hanya dihadapi oleh mereka yang berpendidikan menengah, melainkan juga oleh lulusan tinggi.
Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional 2025 oleh BPS, proporsi pengangguran putus asa terdistribusi dalam berbagai jenjang pendidikan. Lulusan SD dan yang tidak tamat SD mendominasi dengan persentase 50,07%, diikuti oleh lulusan SMP, SMA, HSMK, serta lulusan diploma dan sarjana.
Lulusan pascasarjana S2 dan S3 hanya menyumbang 0,35% dalam kategori ini, menunjukkan tantangan serius yang harus dihadapi oleh individu berpendidikan tinggi dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai kualifikasi mereka.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan yang Mengancam Pengguna Apple
Alasan Di Balik Putus Asa Mencari Kerja
Putus asa dalam mencari pekerjaan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Keyakinan bahwa peluang kerja terbatas, kekurangan pengalaman, keterampilan yang tidak sesuai permintaan pasar, dan persepsi tentang usia yang tidak menguntungkan menjadi beberapa penyebab utama.
Menariknya, lembaga internasional seperti International Labour Organization (ILO) dan Bank Dunia mengenali kelompok ini sebagai 'discouraged workers', yang menyerah akibat berbagai hambatan struktural dan psikologis yang dihadapi.
Fenomena ini menunjukkan dinamika pasar kerja yang memprihatinkan, di mana banyak individu yang ingin bekerja terhalang oleh berbagai faktor baik psikologis maupun institusional.
Persepsi Gender dan Pengaruhnya terhadap Pengangguran
Dari perspektif gender, laporan menunjukkan bahwa laki-laki mendominasi kelompok pengangguran putus asa dengan persentase sekitar 69%, sedangkan perempuan menyumbang sepertiga dari total tersebut. Hal ini mencerminkan norma sosial yang mengharapkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama, membuat mereka lebih rentan dalam pencarian pekerjaan.
Perempuan, di sisi lain, menghadapi tantangan yang lebih kompleks, seperti kurangnya dukungan pengasuhan, norma sosial yang berhubungan dengan peran domestik, dan diskriminasi berdasarkan usia serta status perkawinan dalam proses rekrutmen.
Bank Dunia mencatat bahwa perempuan di Indonesia mengalami lebih banyak kesulitan dalam transisi dari pendidikan ke dunia kerja. Keterbatasan peluang kerja formal yang bersahabat bagi perempuan semakin memperburuk situasi, sering kali memaksa mereka untuk menyerah dalam pencarian pekerjaan.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Tidur dengan Tips Fengshui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: