Kamis, 25 DESEMBER 2025 • 13:20 WIB

Perubahan Paradigma Perkawinan di Kalangan Pemuda Indonesia: Tren Menikah yang Kian Menurun

Author

Perubahan Paradigma Perkawinan di Kalangan Pemuda Indonesia: Tren Menikah yang Kian Menurun

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hanya 27,92 persen pemuda Indonesia berusia 16–30 tahun yang telah menikah pada tahun 2025. Hal ini mencerminkan pergantian pola hidup dan pandangan terhadap institusi perkawinan di kalangan generasi muda.

Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone

Saat ini, 71,04 persen pemuda masih berstatus lajang, menandakan bahwa satu dari empat pemuda memilih untuk tidak menikah. Pergeseran ini memiliki implikasi signifikan terhadap ekonomi dan budaya sosial di Indonesia.

Komposisi Status Perkawinan Pemuda Indonesia 2025

Berdasarkan rilis resmi BPS, data tahun 2025 memperlihatkan bahwa 71,04 persen pemuda di Indonesia belum menikah, sementara 27,92 persen telah memasuki jenjang perkawinan, dan 1,04 persen mengalami perceraian. Ini menunjukkan bahwa mayoritas pemuda masih menghindari pernikahan.

Pergeseran ini memberikan gambaran jelas tentang perubahan dalam struktur sosial di kalangan generasi muda. Sebuah catatan penting untuk berbagai pihak yang berkepentingan, terutama dalam hal perencanaan sosial dan ekonomi.

Peningkatan angka lajang mengindikasikan perlu adanya perhatian lebih terhadap kebutuhan serta harapan pemuda di masa depan.

Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua terhadap Psikologis Anak

Tren Menurun: Pemuda Menikah Terus Berkurang Selama 10 Tahun

Dalam satu dekade terakhir, pemuda yang memilih untuk menikah menunjukkan penurunan yang mencolok. Dari angka 40,46 persen pada tahun 2016, kini hanya 27,92 persen yang memilih untuk menikah pada tahun 2025.

Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 12 persen pemuda dalam kurun waktu tersebut telah mengurangi keputusan untuk memasuki hidup berkeluarga. Sebaliknya, angka pemuda yang belum menikah meningkat dari 58,10 persen pada tahun 2016 menjadi 71,04 persen pada tahun 2025.

Kenaikan ini menandakan adanya perubahan signifikan dalam pola pikir masyarakat mengenai pernikahan dan kehidupan dewasa.

Cerminan Perubahan Prioritas Generasi Muda

Peningkatan jumlah pemuda yang memilih lajang menandakan dinamika sosial yang semakin rumit di kalangan generasi muda. Pendidikan yang lebih tinggi dan fokus pada karier membuat banyak pemuda menunda pernikahan.

Kesiapan mental dan perekonomian menjadi pertimbangan penting, di mana pemuda kini lebih memilih untuk mencapai stabilitas finansial sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Prioritas ini turut diperkuat oleh cara pandang yang lebih luas terhadap fase kehidupan dewasa.

Generasi muda kini tidak lagi semata-mata mengukur kematangan dewasa dari status perkawinan, melainkan dari pencapaian pribadi dan profesional.

Baca juga: Ketegangan di Rapat Koordinasi Komisi XIII DPR RI Mengenai Royalti Lagu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU