Makanan manis sering kali dianggap dapat memperbaiki suasana hati saat seseorang merasa terpuruk. Namun, asupan gula yang berlebihan dapat menyebabkan fluktuasi emosi yang mengganggu.
Baca juga: Menggali Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional
Artikel ini menyajikan analisis mengenai hubungan antara konsumsi makanan manis dan kondisi emosi kita, serta langkah-langkah untuk mengatur asupan gula secara bijaksana.
Bagaimana Makanan Manis Memengaruhi Otak
Ketika makanan manis dikonsumsi, otak mengeluarkan dopamin, sebuah hormon yang berkaitan dengan kebahagiaan. Kondisi ini menjelaskan perasaan senang yang sering muncul setelah menikmati cokelat atau kue.
Namun, efek positif ini tidak bertahan lama. Ketika tingkat dopamin mulai menurun, banyak orang merasa 'down' akibat hilangnya efek gula.
Dr. Sarah Alverson, ahli gizi, menekankan bahwa "Asupan gula yang berlebihan dapat menyebabkan lonjakan energi yang cepat, tetapi diikuti dengan penurunan yang tajam, membuat mood kita berfluktuasi."
Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Ahmad Sahroni setelah Penjarahan
Dampak Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam jangka pendek, banyak orang merasakan kebahagiaan instan setelah mengonsumsi makanan manis. Namun, jika kebiasaan ini berlanjut, bisa berakibat serius bagi kesehatan, seperti meningkatkan risiko diabetes dan depresi.
Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi lebih banyak gula cenderung mengalami gejala depresi yang lebih tinggi. Fluktuasi kadar gula darah merupakan faktor penyebab langsung terhadap perubahan suasana hati.
Contohnya, individu dengan diet tinggi gula mungkin mengalami siklus emosi yang ekstrem, merasakan bahagia di satu hari dan sebaliknya di hari berikutnya.
Mengatur Asupan Gula dengan Bijak
Untuk mendukung keseimbangan suasana hati, penting bagi kita untuk mengatur konsumsi gula secara bijaksana. Memilih makanan manis yang lebih alami, seperti buah-buahan, adalah alternatif yang lebih sehat.
Serat yang ada dalam buah-buahan dapat membantu memperlambat pelepasan gula ke dalam aliran darah, mengurangi risiko lonjakan enerji yang diikuti penurunan mendadak.
Dr. Alverson menekankan, "Penting untuk seimbang dalam asupan. Makanan yang manis perlu dinikmati, tetapi dengan porsi yang seimbang dan tidak berlebihan."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: