Jumat, 30 JANUARI 2026 • 21:21 WIB

Dampak Media Sosial pada Pandangan Diri dan Kesehatan Mental

Author

Dampak Media Sosial pada Pandangan Diri dan Kesehatan Mental

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, memengaruhi cara kita melihat diri sendiri. Pencapaian dan kehidupan orang lain yang kita lihat di platform ini sering kali menjadi tolok ukur bagi kenyataan kita sendiri.

Baca juga: Denza Luncurkan Versi Terbaru D9 dengan Harga Terjangkau di China

Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan mengenai kesehatan mental dan format identitas individu. Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa 90% pengguna mengalami tekanan saat menghadapi pencapaian orang lain di media sosial.

Pengaruh Media Sosial terhadap Persepsi Diri

Sebuah studi menunjukkan bahwa sekitar 90% pengguna media sosial merasa tertekan saat melihat pencapaian orang lain. Melalui scrolling di feed, banyak yang mengalami rasa tidak puas dan perbandingan sosial yang negatif.

Pengguna muda sering kali membandingkan diri dengan standar yang ditetapkan di platform seperti Instagram dan Facebook. Kehidupan glamor yang terlihat sering kali membuat individu merasa kurang berharga.

Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa paparan berlebih terhadap konten glamor dapat membuat seseorang merasa rendah diri. Dengan semakin banyak konten yang ditampilkan, individu meragukan nilai diri mereka sendiri.

Fenomena ini menjadi semakin signifikan dalam konteks budaya kita yang dipengaruhi oleh media sosial, menimbulkan pentingnya pemahaman terhadap dampak tersebut.

Norma Sosial dan Harapan di Era Digital

Media sosial telah membentuk norma sosial baru yang memengaruhi cara kita menilai diri sendiri. Pengguna merasa terdorong untuk mengejar pengakuan melalui likes dan komentar.

Baca juga: Uya Kuya Jadi Sorotan Setelah Rumahnya Dijenangi Massa

Keterhubungan yang intens di platform ini menciptakan tekanan untuk menunjukkan versi terbaik dari diri. Hal ini bisa meningkatkan stres serta dampak negatif terhadap citra diri.

Psikologi menyoroti bahwa kebiasaan ini menciptakan pola pikir berbahaya, di mana nilai diri tergantung pada validasi eksternal. Dampaknya bisa berujung pada burnout dan masalah kesehatan mental lainnya.

Banyak influencer mendorong narasi yang meningkatkan kecemasan di antara pengikut, menciptakan siklus perbandingan yang berbahaya dan tidak akan berhenti.

Strategi untuk Menilai Diri Secara Positif

Para ahli menganjurkan untuk membatasi waktu di media sosial guna mengurangi perasaan negatif. Dengan mengatur batasan, seseorang dapat lebih fokus pada hal-hal positif dalam kehidupannya.

Psikolog merekomendasikan pengalihan perhatian ke aktivitas non-media sosial. Kegiatan seperti olahraga atau melukis dapat membantu membangun rasa percaya diri yang lebih sehat.

Menyadari bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial mencerminkan kenyataan juga penting. Menyikapi konten yang dikurasi dengan bijak dapat mengurangi kecemasan akibat perbandingan.

Dengan menerapkan strategi ini, individu bisa membentuk identitas yang lebih positif dan produktif meskipun ada pengaruh kuat dari media sosial.

Baca juga: Anggota DPR Nonaktif Masih Terima Gaji, Kontroversi Memicu Respons Publik

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU