Hujan ekstrem serta kemunculan siklon tropis semakin sering melanda Indonesia, mencerminkan dampak nyata dari krisis iklim global yang tengah berlangsung.
Baca juga: Kemenperin Belum Terima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17 dari Apple
Para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi bahwa perubahan iklim secara signifikan meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi di Tanah Air.
Dampak Perubahan Iklim Pada Cuaca
Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan bahwa intensitas hujan tinggi merupakan konsekuensi langsung dari krisis iklim yang sedang berlangsung.
'Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer,' ujarnya, menggambarkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan dengan munculnya siklon tropis di berbagai daerah di Indonesia.
Contoh siklon tropis, seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia, telah menimbulkan kerugian signifikan, terutama disekitar Jakarta dan pantai utara Jawa.
Penyebab berbagai pola curah hujan yang tidak normal ini dikaitkan dengan dua fenomena, yakni gelombang atmosfer ekuatorial dan fenomena iklim yang lebih besar seperti La Niña.
Faktor Geografis yang Memengaruhi Curah Hujan
Indonesia terletak di jalur Asian Monsoon yang menyebabkan uap air dari Asia mengalir ke Jakarta, yang memiliki karakteristik dataran aluvial dan pantai landai.
Baca juga: Menu Sarapan Sehat untuk Petinju: Mengoptimalkan Stamina dan Performa Latihan
Eddy menjelaskan bahwa kondisi ini 'memicu terbentuknya pusat tekanan rendah', yang memperparah situasi cuaca ekstrim.
Dalam lapisan tertentu dari atmosfer, angin baratan dan timuran bertemu, menghasilkan pusaran angin yang sangat kuat yang mampu memicu hujan lebat dalam periode panjang di lokasi tertentu.
Dengan adanya faktor-faktor ini, Jakarta menjadi semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh kombinasi dari hujan deras dan daya serap air yang minim di lingkungan perkotaan.
Strategi Mitigasi Untuk Menghadapi Bencana
Dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi ini, Eddy menegaskan pentingnya transformasi dalam sistem peringatan dini.
'Pendekatan konvensional tidak lagi memadai,' ujar Eddy, yang mendorong penggunaan teknologi modern seperti AI, big data, dan machine learning untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca.
Temuan dari penelitian BRIN diharapkan dapat membantu dalam upaya mitigasi dan perumusan kebijakan berbasis sains.
Eddy juga mencatat bahwa persoalan banjir tidak hanya dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh perubahan tutupan lahan yang mengurangi kemampuan serapan air, di mana 'lanskap perkotaan Jakarta belum sepenuhnya siap menghadapi beban dari fenomena hidrometeorologi ekstrem'.
Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin untuk Meningkatkan Kualitas Hidup
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: