Kasus campak di Indonesia mengalami lonjakan yang mencolok, memerlukan perhatian segera. Penemuan dua kasus positif pada wisatawan Australia yang baru saja berkunjung ke Indonesia menunjukkan urgensi untuk mengatasi masalah ini.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Alexander Isak
Menanggapi situasi ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya langkah-langkah preventif untuk menangkal penyebaran penyakit tersebut. Menurutnya, penurunan cakupan vaksinasi campak secara global menjadi faktor utama penyebab peningkatan kasus.
Tindakan Preventif untuk Menanggulangi Penyebaran Campak
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa lonjakan kasus campak terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, langkah-langkah pencegahan yang lebih tegas diperlukan untuk menanggulangi penyebaran penyakit tersebut.
Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jawa Barat, menyoroti pentingnya menjaga cakupan vaksinasi campak yang tinggi dan merata. Dia menjelaskan, 'Penyebabnya secara global juga yaitu akibat menurunnya cakupan vaksinasi campak.'
Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil yang Sering Terabaikan
Dia juga menambahkan bahwa ketimpangan dalam cakupan vaksinasi di berbagai daerah berkontribusi pada munculnya kasus baru. 'Dia mintanya ayo 95 persen kamu semua itu harus kebal agar tidak ada campak,' jelas Prof. Anggraini.
Dampak Serius Akibat Campak
Dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Ketua PP IDAI, mengingatkan masyarakat mengenai bahaya serius dari campak. 'Di saya sendiri, di tempat praktik banyak menemukan anak-anak campak dan rata-rata memang tidak diimunisasi,' ungkapnya.
Campak dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik, seperti radang paru-paru dan radang otak. 'Campak yang komplikasinya ternyata bisa jadi radang paru, radang otak, bahkan bisa buta dan penularannya jauh lebih tinggi daripada COVID-19,' kata dr. Piprim.
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan tidak menganggap remeh campak. Ia menyoroti, 'Kita dengan COVID-19 saja heboh ya, tapi kenapa dengan campak masyarakat masih adem ayem.'
Baca juga: Anggota DPR Nonaktif Masih Terima Gaji, Kontroversi Memicu Respons Publik
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: