Senin, 02 MARET 2026 • 13:37 WIB

Analisis Inflasi Ramadan: Faktor dan Dampak pada Perekonomian 2026

Author

Analisis Inflasi Ramadan: Faktor dan Dampak pada Perekonomian 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data terbaru mengenai inflasi selama bulan Ramadan yang menunjukkan perkembangan menarik dalam dua tahun terakhir.

Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dalam Acara Seni Melawan Tirani

Meskipun inflasi pada tahun 2026 lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, penyebab yang mendalam masih menjadi perhatian penting.

Tren Inflasi dalam Lima Tahun Terakhir

Inflasi selama bulan Ramadan menjadi perhatian setiap tahun, dan BPS mencatat pola signifikan selama lima tahun terakhir. Momen tertinggi inflasi tercatat pada tahun 2025 dengan angka mencapai 1,65%.

Data BPS menunjukkan bahwa inflasi pada tahun 2026 mengalami penurunan, meskipun faktor-faktor penyebabnya tetap ada. Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, mengungkapkan bahwa komoditas bergejolak serta makanan dan minuman menjadi penyumbang utama inflasi selama bulan Ramadan.

Ragam komoditas ini, yang merespon tinggi terhadap permintaan masyarakat saat menjelang hari raya, menjadi fokus perhatian pemerintah dan ekonom dalam mengendalikan inflasi.

Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Dampak Viralitas Video Joget anggota DPR

Peranan Emas dalam Inflasi Ramadan 2026

Dalam konteks inflasi Ramadan 2026, inflasi emas menjadi salah satu pendorong utama. Data dari BPS menunjukkan inflasi emas tercatat sebesar 0,19%, berkontribusi signifikan sejak Ramadan 2024.

Kenaikan inflasi emas yang mencapai 8,42% secara tahunan (yoy) pada Februari 2026 menciptakan dampak besar terhadap daya beli masyarakat.

Ateng menegaskan bahwa fenomena inflasi emas meningkatkan kompleksitas pengelolaan perekonomian selama bulan Ramadan, merugikan konsumen yang mengalami penurunan daya beli.

Faktor Penyebab Inflasi di Bulan Ramadan

Penting untuk memahami bahwa inflasi selama Ramadan tidak hanya disebabkan oleh emas dan makanan, tetapi juga oleh komoditas bergejolak lainnya. Hal ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam upaya mengendalikan inflasi bulanan yang sering meningkat di bulan suci ini.

BPS mencatat bahwa makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan pengaruh yang kuat pada harga. Permintaan yang meningkat menjelang hari raya menyebabkan fluktuasi harga yang sering di luar kendali larangan berproduksi atau distribusi selama bulan Ramadan.

Demi memastikan kestabilan perekonomian, langkah-langkah strategis harus diambil oleh pemerintah untuk mengatasi tantangan inflasi tersebut, sambil tetap mendukung konsumsi masyarakat.

Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua terhadap Psikologis Anak

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU