Kamis, 05 MARET 2026 • 14:03 WIB

Pernyataan Mahindra Terkait Impor Pick Up ke Indonesia: Belum Ada Penundaan Resmi

Author

Pernyataan Mahindra Terkait Impor Pick Up ke Indonesia: Belum Ada Penundaan Resmi

Mahindra, produsen kendaraan asal India, menegaskan bahwa mereka belum menerima informasi resmi mengenai penundaan impor pick up Scorpio ke Indonesia. Pernyataan ini muncul di tengah permintaan penundaan dari berbagai pihak di dalam negeri.

Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental: Pentingnya Perhatian untuk Generasi Muda

Perusahaan tersebut mengonfirmasi telah menerima pesanan untuk 35.000 unit pick up Scorpio dari Agrinas Pangan Nusantara, dengan uang muka sebesar 30 persen dari total nilai pesanan yang telah dibayarkan.

Klarifikasi Mahindra Terkait Pesanan Ekspor

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan pada 3 Maret 2026, Mahindra menjelaskan bahwa mereka belum menjalin komunikasi dengan pihak Indonesia mengenai kemungkinan penundaan impor yang dimaksud. Mereka mengungkapkan bahwa pesanan ekspor yang diterima merupakan yang terbesar hingga saat ini.

Pesanan tersebut terdiri dari 35.000 unit kendaraan komersial ringan yang direncanakan untuk dikirimkan pada tahun ini. Proyek ini dilakukan sebagai hasil kerja sama dengan Agrinas Pangan Nusantara, yang telah membayarkan uang muka sebesar Rp 7,39 triliun dari total pemesanan Rp 24,66 triliun.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengemukakan bahwa uang muka ini diperlukan karena sifat pemesanan yang spesial. "Oleh karena itu kami harus memberikan down payment 30% dan itu sudah kami lakukan untuk semua produk yang kami beli," ujar Joao.

Baca juga: Meningkatkan Produktivitas: Feng Shui di Meja Kerja

Reaksi Negatif terhadap Rencana Impor

Rencana impor pick up dari India mendapat kritik tajam dari sejumlah pihak. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menggaris bawahi pentingnya penundaan rencana impor 105.000 unit mobil untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Dia juga menekankan agar penundaan ini dapat dibahas lebih tepat dan rinci oleh Presiden Prabowo Subianto selama kunjungan kerjanya ke luar negeri, mencerminkan keprihatinan legislator mengenai dampak impor terhadap industri otomotif lokal.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia turut menyuarakan keprihatinan ini dengan meminta agar rencana impor dibatalkan. Mereka menilai bahwa impor kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) dapat membahayakan industri otomotif nasional dan bertentangan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong industrialisasi.

Kepentingan Ekonomi dan Industri Otomotif

Kekhawatiran mengenai rencana impor kendaraan niaga dalam jumlah besar juga disuarakan oleh sejumlah pengusaha. Mereka percaya bahwa hal ini dapat merugikan industri otomotif dalam negeri dan menciptakan dampak ekonomi yang negatif.

Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia, Saleh Husin, mengemukakan, "Setelah menerima pandangan dari pelaku industri otomotif dan asosiasi, kami mengimbau Presiden agar membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga." Pernyataan ini menunjukkan adanya permohonan dari berbagai pihak untuk melindungi industri nasional.

Kepentingan untuk mempertahankan industri lokal semakin mendesak, terutama dalam konteks persaingan global di sektor otomotif, di mana banyak negara berupaya mendorong produk lokal agar lebih kompetitif di pasar internasional.

Baca juga: Manfaat Asam Hialuronat dalam Perawatan Kulit

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU