Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pembahasan mengenai harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi masih menjadi fokus antara pemerintah dan pihak-pihak terkait.
Baca juga: Dolby Vision 2: Menghadirkan Inovasi Memukau dalam Teknologi Visual TV
Bahlil juga menegaskan bahwa cadangan BBM dan LPG di Indonesia dalam kondisi aman, dengan stok nasional melampaui 20 hari.
Stok Energi yang Stabil
Bahlil menekankan bahwa Indonesia telah melewati masa kritis terkait pasokan energi, meskipun gejolak geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung.
Ia mendorong masyarakat untuk menggunakan BBM dan LPG secara bijak agar keberlanjutan energi dapat terjaga.
Pemerintah juga mengaplikasikan campuran 50% biodiesel di solar sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan pada BBM impor, dengan hasil uji coba B50 menunjukkan kemajuan yang signifikan.
Rencana peluncuran proyek ini diharapkan berlangsung pada 1 Juli mendatang, sebagai bagian dari kebijakan nasional untuk menjaga pasokan energi.
Impor dan Diversifikasi Sumber Energi
Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor BBM jadi, tetapi hanya crude oil, seiring dengan diversifikasi sumber impor yang beralih ke negara-negara seperti Angola dan Amerika.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan Sehari-hari
Di sisi lain, untuk bensin, impor masih berlangsung dengan kebutuhan sekitar 20-22 juta kiloliter setiap tahunnya.
Laporan dari Sekretaris Ditjen Migas menunjukkan bahwa porsi impor minyak bensin bisa mencapai 60,18% pada tahun 2025, di mana Singapura, Malaysia, dan Oman menjadi negara pemasok utama.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mencapai kemandirian energi.
Tren Kebutuhan Minyak Solar
Rizwi, Sekretaris Ditjen Migas, melaporkan adanya peningkatan kebutuhan minyak solar, meskipun pemerintah berhasil menurunkan angka impor dari 12,17% menjadi 6,26% hingga Februari 2026.
Total kebutuhan minyak solar pada tahun 2025 mencapai 110.932 KL per hari, dan sedikit meningkat menjadi 111.356 KL per hari di awal 2026.
Impor solar masih didominasi oleh Singapura dan Malaysia, dengan porsi impor dari Singapura mencapai 58,56% dan Malaysia 36,56%.
Data ini menunjukkan bahwa langkah pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional menunjukkan hasil yang efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: