Fenomena makanan viral semakin menguasai panggung kuliner Indonesia, namun tidak sedikit yang merasa cepat bosan setelah mencobanya. Perubahan selera ini patut dicermati mengingat dampaknya terhadap tren dan dinamika pasar makanan.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat Populer di Kalangan Pecinta Kebugaran
Makanan yang sebelumnya menarik perhatian, seperti banana bread atau dalgona coffee, sering kali menjadi membosankan setelah satu kali coba. Mari kita dalami lebih jauh penyebab kejenuhan ini.
Kejenuhan Rasa
Salah satu penyebab utama dari kejenuhan makanan viral adalah faktor kejenuhan rasa. Umumnya, makanan yang menjadi populer menawarkan rasa yang standar dan mudah ditemukan di banyak tempat.
Makanan viral sering kali didesain untuk memikat perhatian visual dengan tampilan unik dan warna cerah, tetapi tidak menawarkan keunikan rasa yang bertahan lama. Akibatnya, konsumen tidak merasakan pengalaman baru setelah mencobanya sekali.
Mencoba rasa yang sama berulang kali cenderung membuat seseorang merasa jenuh, sehingga minat untuk mencobanya lagi menurun. Rasa yang sudah dikenal lebih mudah dilupakan dibandingkan dengan rasa yang baru atau langka.
Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Ahmad Sahroni setelah Penjarahan
Faktor Sosial dan Ekspektasi
Makanan viral biasanya mendapatkan perhatian luas melalui media sosial, sehingga menciptakan ekspektasi yang tinggi dari para penggemarnya. Ketika realitas tidak sesuai dengan harapan, ini dapat mengakibatkan rasa kekecewaan.
Sering kali, makanan yang tampak menggugah selera dalam foto justru terlihat kurang menarik ketika coba dihidangkan. Penurunan kualitas antara harapan dan kenyataan dapat menciptakan frustrasi bagi konsumen.
Di samping itu, adanya fenomena 'FOMO' (Fear of Missing Out) membuat orang merasa harus segera mencoba makanan yang sedang tren. Namun, begitu tren tersebut meredup, hasrat untuk mencobanya juga ikut hilang.
Ketersediaan dan Jangkauan
Ketersediaan makanan viral memiliki pengaruh signifikan terhadap pengalaman konsumen. Munculnya berbagai tempat yang menjual makanan yang sama menciptakan situasi di mana konsumen merasa terpapar oleh pilihan yang melimpah.
Makanan yang dulunya dianggap langka dan eksklusif kini dapat ditemukan di banyak lokasi, sehingga tampak lebih terjangkau dan kehilangan daya tariknya. Ketika semua orang bisa mencapainya dengan mudah, nilai awal mulai pudar.
Sering kali, orang mencari sesuatu yang lebih unik dari apa yang sudah ada di pasar. Overeksplorasi pada suatu makanan bisa membuatnya terasa monoton dan kehilangan maknanya.
Baca juga: Koleksi Patung Superhero Anggota DPR RI Dihancurkan Dalam Penjarahan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: