BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Minggu, 07 DESEMBER 2025 • 11:02 WIB

Kanker Serviks: Tantangan dan Upaya Pemerintah untuk Skrining Perempuan

Kanker Serviks: Tantangan dan Upaya Pemerintah untuk Skrining PerempuanKanker Serviks: Tantangan dan Upaya Pemerintah untuk Skrining Perempuan

Kanker serviks menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di kalangan perempuan di Indonesia, dengan prediksi jumlah kasus baru mencapai 36 ribu. Pemerintah menargetkan 69 juta perempuan menjalani skrining kanker serviks dari 2023 hingga 2030, namun saat ini baru mencapai 27 persen.

Baca juga: Desta Dukung Tuntutan ’17+8′ Usai Dihujat Soal Pilihan Politik

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyatakan bahwa tanpa upaya serius, jumlah kasus dapat meningkat hingga 80 ribu pada tahun 2050. Ini menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan untuk mencegah kematian akibat kanker serviks.

Tantangan dalam Deteksi Dini

Kanker serviks memerlukan perhatian serius karena kontribusinya yang signifikan terhadap angka kematian perempuan. Meskipun ada target ambisius, hanya 27 persen perempuan yang telah menjalani skrining, yang menandakan banyak yang berisiko tidak terdeteksi dini.

Direktur dr. Nadia menjelaskan bahwa dari sekitar 36 ribu kasus yang diperkirakan, hanya 8 ribu yang terdiagnosis. 'Perbedaan yang besar ini menunjukkan banyak kasus yang tidak terdeteksi,' ujarnya, menggarisbawahi pentingnya skrining yang lebih luas.

Kondisi ini menjadi tantangan besar, sebab kanker serviks sering kali tidak terdiagnosis hingga stadium lanjut, memberikan dampak serius baik dari segi kesehatan maupun ekonomi. Pembiayaan untuk penanganan kanker menjadi salah satu beban terbesar bagi sistem kesehatan negara.

Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil yang Sering Terabaikan

Strategi Pemerintah dan Rencana Aksi Nasional

Pemerintah telah menetapkan Rencana Aksi Nasional untuk mengurangi angka kejadian kanker serviks dengan tujuan mengidentifikasi dan mengeliminasi kanker serviks di Indonesia pada tahun 2030.

Dr. Nadia mengungkapkan, 'Momen menjelang hari ibu ini adalah momen yang tepat bagi kita berbicara tentang kanker serviks.' Ia menekankan perlunya peningkatan sarana dan prasarana dalam upaya ini.

Sebagai bagian dari strategi ini, white paper yang dirilis oleh Ikatan Ekonom Kesehatan Indonesia merekomendasikan kebijakan konkret untuk memperkuat sistem skrining kanker serviks. Dekatnya kerjasama antar sektor diharapkan mampu mempercepat implementasi skrining yang lebih luas.

Implementasi dan Model Hub-and-Spoke

Untuk memperluas akses skrining, model hub-and-spoke telah diterapkan di berbagai daerah, memanfaatkan fasilitas di kota besar sebagai pusat untuk pengujian dan distribusi ke daerah sekitarnya yang lebih kecil.

Pengujian di daerah perkotaan seperti Surabaya menunjukkan hasil positif, di mana banyak perempuan berhasil melakukan self-sampling. Namun, dr. Nadia mencatat bahwa edukasi tentang prosedur self-sampling masih perlu ditingkatkan untuk memastikan pengambilan sampel yang benar.

Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk mengintegrasikan layanan skrining dalam sistem pembiayaan JKN, meningkatkan keterlibatan komunitas, dan memperluas metode koleksi sampling agar lebih banyak perempuan dapat terjangkau.

Baca juga: Menikmati Keindahan Sunset di Destinasi Terbaik Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Kanker Serviks: Tantangan dan Upaya Pemerintah untuk Skrining Perempuan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!