BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Sabtu, 02 AGUSTUS 2025 • 12:02 WIB

Fenomena ‘Childfree’ di Indonesia: Pilihan Pribadi yang Menuai Perdebatan

shelifestyle.id – Fenomena ‘Childfree’, atau keputusan untuk tidak memiliki anak, semakin marak di kalangan pasangan suami istri di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meski diakui sebagai hak individu, pilihan ini memicu perdebatan dan stigma di masyarakat.

Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 8 persen perempuan usia produktif yang memilih untuk tidak memiliki anak. Ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir di kalangan generasi muda mengenai peran orang tua dan arti keluarga.

Fenomena ‘Childfree’ di Berbagai Negara

Fenomena ‘Childfree’ bukanlah hal baru, tetapi baru-baru ini menjadi sorotan di berbagai negara. Di Jepang, misalnya, sekitar 27 persen perempuan berusia 50 tahun memilih untuk tidak memiliki anak karena berbagai alasan, termasuk tekanan ekonomi dan kesulitan menyeimbangkan karier dengan keluarga.

Di Korea Selatan, tren serupa juga muncul di kalangan generasi muda yang lebih memilih untuk menunda pernikahan dan kelahiran anak akibat kondisi ekonomi yang sulit. Meskipun pemerintah menawarkan insentif untuk mendorong pasangan memiliki anak, hasilnya belum menunjukkan perubahan yang signifikan.

Di Rusia dan Hungaria, pemerintah bahkan mengesahkan undang-undang yang menghambat gerakan childfree, menjadikannya sebagai ancaman terhadap nilai-nilai keluarga tradisional. Sebaliknya, negara-negara Eropa seperti Finlandia dan Austria menunjukkan angka tinggi perempuan yang memilih untuk childfree, masing-masing mencapai 20 persen dan 21 persen.

Perkembangan ‘Childfree’ di Indonesia

Di Indonesia, fenomena childfree mulai mencuat sejak tahun 2020 dengan sekitar 8 persen perempuan usia produktif mengambil keputusan untuk tidak memiliki anak. Ini mencerminkan pergeseran pola pikir generasi muda mengenai peran orang tua dan struktur keluarga.

Meskipun childfree merupakan pilihan pribadi yang sah, stigma dan pandangan negatif masih ada di masyarakat. Beberapa orang berpendapat bahwa memiliki anak adalah kewajiban dalam pernikahan.

Alasan di balik keputusan untuk childfree di Indonesia hampir serupa dengan negara maju, seperti faktor ekonomi dan kebebasan individu. Generasi muda lebih cenderung fokus pada pengembangan diri dan karier.

Tantangan dan Stigma terhadap Pilihan ‘Childfree’

Meski jumlah pasangan yang memilih childfree meningkat, stigma negatif masih mengular. Banyak individu merasa tertekan oleh harapan masyarakat untuk memiliki anak, yang didasarkan pada nilai-nilai tradisional.

Dialog tentang childfree masih sangat terbatas dan sering melibatkan argumen yang berfokus pada keutuhan keluarga. Diskusi yang lebih terbuka dapat membantu mengurangi stigma serta memfasilitasi pemahaman yang lebih baik.

Pendidikan dan kampanye kesadaran menjadi cara yang efektif dalam mengatasi stigma ini. Dengan semakin banyaknya orang yang berbicara tentang keputusan mereka untuk hidup childfree, diharapkan pilihan ini dapat dinormalisasikan dalam masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Fenomena ‘Childfree’ di Indonesia: Pilihan Pribadi yang Menuai Perdebatan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!