Menghidupkan Kembali Kenangan Trem di Indonesia
Trem pernah menjadi moda transportasi utama di kota-kota besar Indonesia seperti Surabaya dan Jakarta, namun kini perlahan menghilang dari peta transportasi perkotaan.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota Dewan dan Keresahan Masyarakat
Perjalanan sejarah trem dimulai dari era kolonial Belanda, yang membentuk tidak hanya mobilitas tetapi juga wajah kota-kota tersebut.
Trem pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada era penjajahan Belanda sekitar akhir abad ke-19. Moda transportasi ini dirancang untuk melayani penduduk perkotaan dan meningkatkan konektivitas antar wilayah.
Pada tahun 1884, trem listrik pertama kali dioperasikan di Surabaya, diikuti Jakarta beberapa tahun kemudian. Keberadaan trem sangat penting karena mampu mengangkut penumpang dalam jumlah besar dengan efisiensi tinggi.
Kehadiran trem di perkotaan Indonesia menunjukkan kemajuan teknologi yang dihadirkan oleh kolonial Belanda, serta mempercepat urbanisasi dengan menyediakan aksesibilitas yang lebih baik bagi masyarakat.
Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil yang Sering Terabaikan
Sejak awal digunakan, trem cepat mendapatkan popularitas di kalangan warga kota. Jaringan trem yang luas di Surabaya dan Jakarta memungkinkan penduduk berpindah tempat dengan lebih cepat dan nyaman.
Selama dekade 1930-an, sistem trem mencapai puncak penggunaannya, dengan rute yang membentang melewati berbagai kawasan penting. Hal ini menjadikan trem salah satu moda transportasi yang sangat diandalkan masyarakat.
Namun, seiring bertambahnya kendaraan bermotor, ketergantungan terhadap trem mulai berkurang. Pada tahun 1960-an, perhatian lebih difokuskan pada dukungan transportasi darat lainnya, seperti bus dan mobil pribadi.
Pada akhir dekade 1970-an, trem secara resmi dihentikan operasionalnya di Jakarta dan Surabaya. Faktor-faktor seperti mahalnya biaya pemeliharaan dan peningkatan volume lalu lintas menjadi alasan utama penutupan sistem ini.
Meskipun sudah tidak beroperasi lagi, jejak trem masih dapat ditemukan dalam bentuk rel yang tersisa serta bangunan yang dulunya menjadi stasiun. Banyak warga yang masih mengenang masa-masa ketika trem menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan perkotaan.
Seiring berkembangnya inisiatif untuk mengembalikan moda transportasi berkelanjutan, beberapa pihak mulai mengusulkan untuk menghidupkan kembali sistem trem. Namun, tantangan besar terkait pembiayaan dan infrastruktur yang dibutuhkan masih mengintai.
Baca juga: Olahraga Teratur untuk Kesehatan Jantung yang Optimal
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: