Rabu, 07 JANUARI 2026 • 14:30 WIB

Densus 88 Ungkap 70 Anak Terpapar Ideologi Ekstrem Melalui Media Sosial

Author

Densus 88 Ungkap 70 Anak Terpapar Ideologi Ekstrem Melalui Media Sosial

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melaporkan bahwa sebanyak 70 anak di Indonesia terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui grup media sosial True Crime Community (TCC). Temuan ini disampaikan dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta pada Rabu (7/1/2026).

Baca juga: Kemenperin Belum Terima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17 dari Apple

Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Ekadalam, menjelaskan bahwa komunitas ini berkembang seiring kemajuan media digital yang memberikan ruang interaksi di antara anggota.

Profil Komunitas True Crime Community

Kombes Mayndra menjelaskan bahwa True Crime Community (TCC) bukanlah organisasi yang didirikan oleh individu tertentu, melainkan tumbuh secara alami dalam ruang digital. Fenomena ini menciptakan pertemuan antara minat individu terhadap kekerasan dan sensasionalisme media.

Densus 88 menemukan beberapa grup terafiliasi dengan TCC, termasuk FTCI Film True Crime Indonesia dan TCC Reborn. Meski demikian, Mayndra tidak mengungkapkan jumlah pasti grup yang teridentifikasi, menunjukkan dinamika komunitas ini sulit terpantau secara keseluruhan.

Sebanyak 70 anak telah diidentifikasi sebagai anggota grup tersebut, dengan sebaran terbesar di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Rincian ini menunjukkan luasnya pengaruh ideologi ini di berbagai provinsi di Indonesia.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Perampokan

Faktor Penyebab Terpaparnya Anak-anak

Dari total 70 anak yang terpapar ideologi kekerasan, Densus telah melakukan asesmen terhadap 67 di antaranya. Mayoritas anak berusia antara 11 hingga 18 tahun, banyak di antaranya merupakan korban perundungan di sekolah dan lingkungan sosial.

“Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah,” ujar Mayndra, menyoroti dampak sosial yang signifikan pada kelompok usia ini.

Selain perundungan, ketidakharmonisan dalam keluarga, kurang perhatian dari orang tua, serta akses berlebihan terhadap perangkat digital turut menjadi faktor penyebab. Hal ini mendorong anak-anak merasa komunitas TCC sebagai 'rumah kedua' mereka.

Aktivitas Berbahaya dan Tindakan Preventif

Mayndra menyebutkan adanya kecenderungan di kalangan anak-anak ini untuk terlibat dalam aktivitas berbahaya, termasuk pembelian replika senjata. Mereka menyasar individu yang dianggap sebagai pembuli di lingkungan mereka.

Dalam penjelasannya, Mayndra menyatakan, “Ada replika senjata api dan busur dengan ciri khas mereka menulis pahamnya, tokoh-tokohnya, dan beberapa narasi.” Ini menunjukkan bahwa mereka berusaha mengekspresikan ideologi kekerasan melalui atribut yang mereka miliki.

Densus 88 juga mengidentifikasi komponen elektro dan bahan peledak yang dianggap berbahaya. Penanganan masalah ini melibatkan intervensi seperti konseling dan asesmen untuk mencegah perkembangan lebih lanjut dari ideologi ekstrem tersebut.

Baca juga: Uya Kuya Jadi Sorotan Setelah Rumahnya Dijenangi Massa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU