Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 16:05 WIB

Tindakan Uni Eropa untuk Batasi Media Sosial bagi Anak-Anak

Author

Tindakan Uni Eropa untuk Batasi Media Sosial bagi Anak-Anak

Uni Eropa sedang merumuskan langkah untuk membatasi akses media sosial bagi anak-anak di bawah usia 15 tahun. Ini menjadi bagian dari upaya untuk melindungi generasi muda dari konten yang berbahaya dan memengaruhi kesehatan mental mereka.

Baca juga: Tips Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang yang Cozy

Langkah ini mengikuti rancangan undang-undang yang telah disetujui di Prancis serta komitmen Perdana Menteri Spanyol untuk menjaga keamanan digital anak-anak dari dampak negatif dunia maya.

Dukungan dan Implementasi Rancangan Undang-Undang di Eropa

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, telah menyatakan komitmen untuk melindungi anak-anak dari paparan media sosial yang tidak terkontrol. 'Hari ini, anak-anak kita terpapar pada ruang yang seharusnya tidak mereka jelajahi sendirian,' ungkap Sanchez.

Prancis sudah mulai mendiskusikan rancangan undang-undang ini di parlemen, sementara Spanyol diprediksi akan segera memberlakukan larangan serupa untuk anak di bawah 16 tahun. Negara-negara seperti Denmark dan Italia juga menunjukkan minat pada undang-undang yang sejalan dengan langkah ini.

Di sisi lain, Portugal telah mengajukan rancangan yang mengharuskan persetujuan orang tua sebelum anak di bawah 16 tahun dapat mengakses platform media sosial.

Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua terhadap Psikologis Anak

Mekanisme Verifikasi Usia dan Pendapat Para Ahli

Salah satu ide yang diusulkan untuk menerapkan pembatasan ini adalah penggunaan Identitas Digital Uni-Eropa, yang bertujuan untuk verifikasi usia pengguna tanpa melanggar data pribadi. Paul O. Richter, peneliti senior di Bruegel, menyatakan bahwa sistem ini dapat membantu membuktikan usia pengguna secara digital.

Namun, Marc Damie dari gerakan ctrl+alt+reclaim menyatakan keraguannya terhadap efektivitas mekanisme tersebut. 'Larangan seperti ini justru akan berdampak sebaliknya,' ujarnya, menunjukkan bahwa tindakan simbolis sering kali tidak menghasilkan solusi jangka panjang.

Para pakar juga mengingatkan bahwa langkah ini tidak menyelesaikan masalah yang lebih mendalam di platform media sosial, seperti kecanduan terhadap fitur autoplay dan infinite scrolling yang dapat memicu kecemasan anak.

Respons Dunia dan Masa Depan Kebijakan Media Sosial

Sebagai respons terhadap isu ini, Uni Eropa telah mengembangkan Digital Services Act (DSA) yang bertujuan untuk mengubah mekanisme operasi perusahaan teknologi. 'DSA adalah satu-satunya pihak yang dapat memberlakukan kewajiban tambahan pada platform daring,' ucap Thomas Regnier dari Komisi Eropa.

Di sisi lain, Elon Musk, pemilik platform X, menanggapi rencana larangan ini dengan skeptis, menyebutnya sebagai 'bentuk tirani'. 'Regulasi Eropa terkait keamanan digital adalah upaya membatasi kebebasan berpendapat,' tegas Musk.

Kritik pun datang dari aktivis dan pakar yang berpendapat bahwa Uni Eropa perlu lebih berinvestasi dalam alternatif media sosial yang mencerminkan nilai-nilai lokal, guna mengurangi ketergantungan terhadap platform besar dari AS.

Baca juga: Pentingnya Mengonsumsi Obat Cacing Secara Rutin untuk Kesehatan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU