Denada, penyanyi terkenal Indonesia, baru-baru ini menceritakan momen kelahiran putranya yang penuh tantangan, Ressa. Pengalaman persalinannya diwarnai oleh rasa sakit fisik dan emosional yang mendalam, serta tekanan untuk menyimpan rahasia mengenai kelahiran tersebut dari publik.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut
Dalam sesi berbagi yang emosional, Denada mengungkapkan beban mental yang ia hadapi sebagai seorang ibu yang berjuang sendirian. Dia berharap bisa merayakan kelahiran anaknya dengan sukacita, daripada menanggung kesedihan yang menyiksanya.
Kenangan Persalinan yang Menyakitkan
Mengisahkan kembali pengalaman kelahiran Ressa, Denada mengalami kesedihan dan sakit yang mendalam. Dia mengingat, "Jujur, kembali lagi aku kayak ada flashback. Yang aku ingat tuh aku pada saat itu aku sendiri, dan aku sedih banget, dan aku sakit banget rasanya hari itu. I was so alone."
Kondisi saat itu sangat jauh dari harapan ideal, di mana seharusnya ada dukungan dari pasangan. Namun, kenyataan yang dihadapinya justru membuatnya terpaksa menyimpan rahasia soal kelahiran Ressa, "Mestinya kan situasinya ideal, ada bapaknya, ada ibunya. Dan pada saat itu aku melihat betapa itu harus kita rahasiakan," tambahnya dengan rasa kepiluan.
Pengalaman ini tidak hanya mengubah pandangannya sebagai seorang ibu, tetapi juga menciptakan trauma yang mendalam, yang kerap ia ingat setiap kali memikirkan kembali saat kelahiran.
Baca juga: Denza Luncurkan Versi Terbaru D9 dengan Harga Terjangkau di China
Beban Rasa Bersalah Sebagai Seorang Ibu
Setelah melahirkan sendirian, Denada menuturkan perasaan gagal sebagai seorang ibu yang membebaninya. Rasa bersalah ini terus menghantuinya bersama setiap interaksinya dengan Ressa.
"I feel so guilty, aku merasa bersalah banget. Aku seperti menyakiti semua orang, aku seperti merepotkan semua," ungkapnya dengan penuh emosional.
Ketika melihat putranya, Denada sering kali merasakan keraguan. Ia menjelaskan, "Setiap aku melihat dia, langsung berasa kayak 'iya ya, tahu apa enggak ya? Tahu apa enggak ya?' Rasa canggung itu muncul karena aku merasa bersalah sama dia."
Membangun Jembatan Komunikasi dengan Ressa
Dengan kepergian ibunya, Emilia Contessa, Denada merasa bertanggung jawab untuk memberikan kejujuran kepada Ressa. Meskipun komunikasi di antara mereka belum sepenuhnya terjalin, Denada berusaha membangun jembatan tersebut.
"Ressa kalau boleh, ingin rasanya ketemu Ressa. Enggak untuk apa-apa, aku hanya ingin ketemu kalau boleh pengin peluk aja. Tapi kalau Ressa enggak mau juga dimengerti kok," harapnya.
Denada menegaskan komitmennya untuk memastikan anaknya memahami kebenaran dari sudut pandangnya sendiri. "Aku berutang penjelasan-penjelasan ini kepada dia," pungkasnya.
Baca juga: Olahraga Low Impact: Solusi Ideal untuk Pemula Memulai Kebiasaan Sehat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: