Lebih dari Satu Miliar Perangkat Android Masih Pakai Versi Usang
Lebih dari sepertiga pengguna Android di dunia masih menggunakan Android 13 atau versi yang lebih rendah, memicu kekhawatiran terkait keamanan data. Sekitar satu miliar perangkat Android saat ini beroperasi tanpa pembaruan keamanan resmi dari Google.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan ’17+8′ Usai Dihujat Soal Pilihan Politik
Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat ancaman dari penjahat siber yang dapat mengeksploitasi celah keamanan. Data dari perusahaan keamanan siber, Zimperium, menyatakan lebih dari separuh perangkat mobile global masih menggunakan sistem operasi yang usang.
Menurut data terbaru, lebih dari sepertiga pengguna Android di dunia masih mengandalkan Android 13 atau versi lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pengguna tidak memanfaatkan fitur dan pembaruan keamanan yang ditawarkan oleh versi terbaru.
StatCounter melaporkan bahwa sebanyak satu miliar perangkat Android tidak mendapatkan pembaruan resmi dari Google, yang menimbulkan keprihatinan mendalam, terutama terkait keamanan informasi pengguna.
Laporan dari Zimperium memperingatkan bahwa perangkat yang tidak menerima patch keamanan rutin dapat menjadi target empuk bagi penjahat siber. Mereka dapat mengeksploitasi celah yang ada dan meresikokan data pribadi pengguna.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dalam Acara Seni Melawan Tirani
Salah satu dampak nyata dari keterlambatan pembaruan software adalah meningkatnya risiko bagi pengguna ponsel lama yang tidak lagi dapat diupdate. Pada Desember lalu, patch keamanan berhasil menutup 107 celah keamanan, termasuk beberapa dengan risiko tinggi, yang terbuka bagi perangkat tanpa dukungan.
Situasi ini memberikan kesempatan bagi para peretas untuk mencuri data pribadi, seperti informasi login dan data finansial. Oleh karena itu, seruan untuk mengganti perangkat menjadi semakin mendesak di tengah ancaman yang terus berkembang.
Sebagai perbandingan, hanya sekitar 10 persen iPhone di dunia yang tidak lagi menerima pembaruan resmi. Ini menunjukkan bahwa ekosistem Apple lebih baik dalam menangani masalah fragmentasi yang menghambat proses pembaruan Android.
Fragmentasi dalam ekosistem Android, di mana ratusan produsen menggunakan variasi chipset dan antarmuka, semakin menyulitkan distribusi pembaruan. Setiap pembaruan perlu disesuaikan dengan spesifikasi perangkat keras, yang berkontribusi pada keterlambatan pengiriman patch keamanan.
Security Boulevard menyatakan bahwa kondisi ini menciptakan risiko tinggi, karena meskipun kerentanan sudah diketahui, perangkat-perangkat ini masih dapat dieksploitasi. Ini memberi kesempatan bagi penjahat siber untuk menyerang jutaan perangkat yang rentan.
James Maude dari BeyondTrust memperingatkan bahwa celah yang tampak terbatas dapat berkembang menjadi alat untuk serangan massal. Begitu celah tersebut diketahui secara luas, penyerangan terhadap perangkat akan semakin intensif.
Baca juga: Uya Kuya Jadi Sorotan Setelah Rumahnya Dijenangi Massa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: