Inisiatif BRIN: Mewujudkan Standarisasi PengisianDaya Kendaraan Listrik di Indonesia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang berusaha untuk mengembangkan soket dan plug berstandar nasional bagi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai roda dua. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas sistem pengisian daya dan mempercepat adopsi kendaraan listrik di seluruh Indonesia.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental: Pentingnya Perhatian untuk Generasi Muda
Saat ini, BRIN tengah membahas mengenai standar nasional untuk socket fast charging di Badan Standardisasi Nasional (BSN), diharapkan standar tersebut dapat diterima oleh berbagai produsen kendaraan listrik di tanah air.
Eka Rakhman Priandana, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, menyatakan bahwa kurangnya standar untuk plug dan socket menjadi kendala dalam pengembangan infrastruktur pengisian kendaraan listrik. "Masalahnya sekarang, motor listrik merek A bisa ngecas di stasiun pengisian A, tapi belum tentu bisa di (stasiun pengisian) B atau C," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tanpa standardisasi, pengguna kendaraan listrik mungkin menghadapi kesulitan saat mencari stasiun pengisian. "Pengguna akan menghadapi risiko tidak kompatibelnya kendaraan dengan stasiun pengisian yang tersedia," jelasnya.
Eka mengungkapkan tiga faktor utama yang memperlambat adopsi kendaraan listrik secara global, termasuk infrastruktur pengisian yang masih terbatas. "Pertama, infrastruktur pengisian itu sedikit, bukan hanya jumlahnya tetapi juga masalah koneksi internet," terangnya.
Walaupun menghadapi tantangan, perkembangan KBLBB di Indonesia menunjukkan tren positif. Data dari Direktorat IMATAP Kementerian Perindustrian mencatat hingga akhir 2025, jumlah kendaraan listrik diprediksi mencapai sekitar 333 ribu unit, dengan sepeda motor listrik menjadi penyumbang utama.
Baca juga: Menikmati Keindahan Sunset di Destinasi Terbaik Indonesia
Namun, infrastuktur pengisian untuk kendaraan roda dua masih kurang berkembang. Kebijakan yang ada saat ini lebih mengarah pada skema penukaran baterai melalui Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), yang kini menghadapi tantangan seiring dengan perubahan minat konsumen.
Eka menyampaikan bahwa tren motor listrik dengan baterai besar mulai terlihat. "Motor yang baterainya besar ini tidak bisa ditukar. Berat baterainya bisa 20 sampai 25 kilogram, dan itu berbahaya kalau ditukar," ungkapnya, menekankan faktor keselamatan.
BRIN telah memulai pengembangan plug dan socket KBLBB roda dua yang sesuai dengan standar nasional, untuk mendukung pengembangan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) fast charging. Desain yang diusulkan mengacu pada standar internasional seperti IEC 62196-6 dan protokol komunikasi IEC 61851-25.
"Dengan menstandardisasi plug dan socket, kita bisa mengakomodasi kendaraan listrik roda dua dengan baterai tertanam," kata Eka, menekankan pentingnya investasi dalam infrastruktur pengisian yang kompatibel.
Proyek pengembangan sistem fast charging juga mendukung penggunaan komponen dalam negeri. "Karena kontrolernya kami bikin sendiri, TKDN-nya bisa tinggi. Yang impor hanya power converter-nya," jelasnya.
BRIN juga menjalin kerjasama dengan PT Volex Indonesia untuk memastikan proses desain dan produksi socket dan plug dapat memenuhi kebutuhan industri. "Harapannya, plug dan socket ini bisa diwajibkan untuk KBLBB roda dua dan kita usulkan ke IEC sebagai standar internasional," tambah Eka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: