Serangan Siber Global: Indonesia Bisa Terkena Imbasnya
Serangan siber kini mengintai di ranah digital, menyingkap kerentanan yang tak terduga. Dalam dua bulan, lebih dari 600 firewall di 55 negara berhasil diakses oleh seorang peretas yang berbahasa Rusia.
Baca juga: Inovasi Kecerdasan Buatan dalam Perawatan Keguguran
Serangan yang berlangsung dari 11 Januari hingga 18 Februari 2026 ini menimbulkan keprihatinan atas potensi risiko bagi sistem keamanan digital di Indonesia.
CJ Moses, CISO Amazon Integrated Security, menjelaskan bahwa pelaku tidak memanfaatkan celah zero-day, tetapi lebih memilih menargetkan antarmuka manajemen yang terbuka dan kredensial lemah. Ini memungkinkan peretas untuk memasuki sistem yang seharusnya terproteksi dengan baik.
Setelah mendapatkan akses, pelaku mengekstraksi konfigurasi penting, termasuk kredensial SSL-VPN dan akun administrator. Data ini lantas dianalisis dengan alat berbasis Python dan Go, yang diperkuat dengan kecerdasan buatan.
Amazon menjelaskan, "Setelah memperoleh akses VPN ke jaringan korban, pelaku ancaman menerapkan alat pengintaian khusus, dengan berbagai versi yang ditulis dalam Go dan Python."
Baca juga: Menunjukkan Cinta Melalui Tindakan Kecil untuk Pasangan
Moses melanjutkan bahwa firewall yang terkena dampak terdeteksi di berbagai wilayah seperti Asia Selatan, Amerika Latin, Karibia, dan Afrika Barat. Pentingnya keberadaan firewall yang terkompromikan ini menimbulkan potensi risiko bagi keamanan siber di Indonesia.
Serangan juga menyasar sistem cadangan, seperti server Veeam Backup & Replication, yang dapat melemahkan kemampuan pemulihan data sebelum keadaan darurat seperti ransomware. Hal ini menjadi perhatian besar bagi perusahaan di Indonesia.
Amazon menyatakan bahwa pelaku sering menargetkan struktur infrastruktur cadangan untuk menghalangi upaya pemulihan file yang terenkripsi, sehingga langkah-langkah pencegahan sangat penting.
Meskipun langkah-langkah teknis pelaku dianggap rendah hingga menengah, penerapan AI telah membuat serangan ini jauh lebih terorganisir dan efektif. Dalam beberapa insiden, pelaku bahkan mengunggah topologi jaringan korban ke dalam layanan AI untuk mengeksplorasi strategi penetrasi yang lebih terbaru.
Temuan ini didukung oleh laporan dari Google, yang menyatakan bahwa AI Gemini telah disalahgunakan dalam beberapa fase serangan siber. Ini menunjukkan bahwa teknologi ini kini menjadi kekuatan pendorong bagi para peretas.
Laporan itu juga menekankan bahwa AI generatif mampu memperbesar skala intrusi dengan lebih efisien, berpotensi memperburuk situasi keamanan siber secara global, termasuk di Indonesia.
Baca juga: Ketegangan di Rapat Koordinasi Komisi XIII DPR RI Mengenai Royalti Lagu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: