Teknologi deepfake yang semakin berkembang berpotensi menjadi ancaman serius bagi stabilitas keamanan nuklir global, menurut laporan terbaru dari majalah Foreign Affairs.
Baca juga: Peluncuran iPhone 17 Series: Apakah eSIM Akan Jadi Standar Baru?
Philip Schellekens, Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik UNDP, memperingatkan bahwa penerapan kecerdasan buatan di sektor militer dapat memiliki konsekuensi fatal bagi eksistensi manusia.
Bahaya Manipulasi Informasi dalam Perang Nuklir
Deepfake, teknik yang digunakan untuk menciptakan konten audio dan visual yang tampak autentik, dapat mengaburkan batas antara fakta dan fiksi, berisiko memicu respon agresif dari negara bersenjata nuklir.
Schellekens menegaskan bahwa menyerahkan kontrol keputusan penggunaan senjata nuklir kepada AI dapat memperbesar kemungkinan konflik bersenjata. Ia mengatakan, 'Teknologi ini harus diatur sangat ketat untuk memastikan penggunaannya bertanggung jawab.'
Laporan tersebut juga mencatat bahwa kemudahan dalam menciptakan informasi palsu dapat menyebabkan hilangnya kontrol over data. 'AI telah menghilangkan hambatan dalam penciptaan konten palsu,' seperti yang ditegaskan dalam laporan tersebut.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Berlanjut
Manipulasi Geopolitik Melalui Deepfake
Penggunaan deepfake untuk memanipulasi pemimpin negara bersenjata nuklir bisa mengarah pada keputusan untuk serangan pendahuluan, yang dapat menciptakan instabilitas politik dan sosial.
Manipulasi ini tidak hanya berpotensi mengakibatkan kesalahpahaman antara negara, tetapi juga dapat memicu dukungan publik untuk konflik besar. Seperti yang diungkapkan dalam laporan, 'Ini adalah senjata baru untuk menciptakan perpecahan di masyarakat dan memicu alasan perang yang tidak sah.'
Penggunaan deepfake yang kurang bijaksana bisa mengubah cara negara-negara berinteraksi serta meningkatkan kemungkinan eskalasi konflik tanpa justifikasi yang kuat.
Tindakan Global Menghadapi Ancaman Deepfake
Dengan meningkatnya kompleksitas AI, komunitas internasional diharapkan dapat segera mengambil langkah proaktif untuk mengatasi potensi bahaya dari deepfake.
Schellekens menyatakan pentingnya regulasi yang baik dalam meminimalkan risiko yang ditimbulkan, dengan pernyataan, 'Kita tidak dapat membiarkan teknologi ini berkembang tak terkontrol.'
Kolaborasi antarnegara, serta kerja sama dengan lembaga internasional, sangat dibutuhkan untuk menetapkan norma dan regulasi yang tepat dalam menghadapi tantangan yang disebabkan oleh kecerdasan buatan dan deepfake.
Baca juga: Aksi Neofobia di Stasiun Cikini: Pria Melompat ke Atas KRL Viral di Media Sosial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: