Pete Lau, CEO OnePlus, kini menjadi buronan pemerintah Taiwan setelah surat perintah penangkapan dikeluarkan oleh Kejaksaan Distrik Shilin. Ia diduga terlibat dalam perekrutan ilegal yang melibatkan lebih dari 70 tenaga kerja asal Taiwan.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Perampokan
Dugaan ini mencuat setelah investigasi yang menunjukkan adanya kolaborasi dengan dua warga lokal dalam perekrutan dan pengalihan dana yang menyalahi Undang-undang Cross-Strait Act.
Dugaan Perekrutan Ilegal
Pada tanggal 13 Januari 2026, Kejaksaan Distrik Shilin mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Pete Lau. Ia dituduh melakukan perekrutan tenaga kerja asal Taiwan secara ilegal, yang merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang Cross-Strait Act.
Tuduhan ini muncul setelah ditemukan bahwa Lau berkolaborasi dengan dua warga Taiwan, Lin dan Cheng, untuk merekrut lebih dari 70 teknisi. Praktik ini dianggap melawan regulasi pemerintah Taiwan yang bertujuan melindungi tenaga kerja lokal.
Undang-undang Cross-Strait Act mengharuskan perusahaan dari China untuk memperoleh izin sebelum mempekerjakan warga Taiwan. Tujuan peraturan ini adalah untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Taiwan dari ancaman potensial.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone
Peran Lin dan Cheng dalam Kasus Ini
Lin dan Cheng, dua warga negara Taiwan, diduga memainkan peran signifikan dalam perekrutan tenaga kerja ilegal untuk OnePlus. Mereka juga terlibat dalam penyaluran dana untuk mendukung proses perekrutan.
Diketahui bahwa Lin dan Cheng mendaftarkan perusahaan 'OnePlus' pada Maret 2014 dan mengubah namanya menjadi 'Sonar' setahun kemudian. Tindakan ini terindikasi sebagai langkah untuk menyembunyikan praktik ilegal yang berlangsung.
Laporan menyebutkan adanya aliran dana lebih dari 2,3 miliar Dollar Baru Taiwan antara Agustus 2015 hingga Januari 2021. Dana ini semula dilaporkan sebagai pendapatan riset dan pengembangan, namun sebenarnya digunakan untuk merekrut pekerja di Taiwan.
Respons OnePlus dan Situasi di Taiwan
Hingga saat ini, OnePlus belum memberikan pernyataan resmi mengenai surat perintah penangkapan terhadap Pete Lau. Kasus ini menambah daftar masalah hukum yang dihadapi perusahaan asal China, terutama terkait rekrutmen karyawan di Taiwan.
Pemerintah Taiwan telah berusaha keras untuk memberantas praktik perekrutan ilegal, khususnya di sektor semikonduktor. Situasi ini menjadikan Taiwan sebagai target bagi perusahaan-perusahaan dari China yang mencari tenaga kerja berkualitas.
Dalam setahun terakhir, biro investigasi Taiwan aktif melakukan lebih dari 100 penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan China yang diduga beroperasi tanpa izin. Langkah penegakan hukum ini menunjukkan keseriusan pemerintah Taiwan dalam melindungi karyawan lokal dari praktek perekrutan yang tidak sah.
Baca juga: Uya Kuya Jadi Sorotan Setelah Rumahnya Dijenangi Massa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: