Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) mengalami kemajuan pesat dan diharapkan akan terus berlanjut. Salah satu terobosan yang dinantikan adalah kehadiran kecerdasan umum buatan (AGI) yang sudah semakin dekat.
Baca juga: Kemenperin Belum Terima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17 dari Apple
Sam Altman, CEO OpenAI, menyampaikan harapannya bahwa AGI bisa memiliki kecerdasan setara manusia dan mampu beradaptasi di berbagai situasi. Keberadaan AGI dapat menjadi kunci untuk menghadapi tantangan di banyak bidang, dari kesehatan hingga pendidikan.
Menggali Kecerdasan Umum Buatan (AGI)
Artificial General Intelligence (AGI) didefinisikan sebagai model kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan setara dengan kecerdasan manusia. Artinya, AI tidak akan lagi memerlukan pelatihan secara konstan, tetapi bisa beradaptasi terhadap situasi baru.
Sam Altman memperkirakan bahwa kecerdasan super (ASI) juga akan hadir dalam waktu dekat. Dalam tahap ini, AI diharapkan dapat melebihi kemampuan manusia dalam menyelesaikan berbagai masalah.
Kemajuan ini menunjukkan pentingnya masyarakat untuk mempersiapkan diri, mengetahui bahwa AGI bisa membawa dampak positif di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan industri.
Baca juga: Makanan Kaya Vitamin C untuk Daya Tahan Tubuh yang Optimal
Konsumsi Energi dan Komentar Kontroversial
Dalam diskusi mengenai pengembangan AI, Altman mengangkat isu penting terkait konsumsi sumber daya, khususnya air yang digunakan dalam operasional pusat data. Ia menanggapi rumor yang mengklaim bahwa penggunaan model AI menyedot banyak air.
"Anda melihat hal-hal ini di internet yang mengatakan 'jangan gunakan ChatGPT, menghabiskan 17 galon air untuk tiap kueri' atau apapun. Ini sama sekali tidak benar, benar-benar gila, tidak ada hubungannya dengan kenyataannya," kata Altman.
Namun, Altman menekankan bahwa kekhawatiran mengenai konsumsi energi lebih realistis. Ia mendorong peralihan penggunaan sumber energi terbarukan seperti energi nuklir, angin, dan matahari.
Tantangan Pusat Data Orbital
Altman juga memberikan tanggapan mengenai gagasan pusat data yang beroperasi di luar angkasa. Ia menyatakan bahwa konsep tersebut tidak relevan dengan kebutuhan saat ini dan tidak layak untuk diterapkan.
"Pusat data orbital tidak akan relevan dalam skala besar dekade ini, karena perhitungan kasar biaya peluncuran dan sulitnya memperbaiki GPU yang rusak di antariksa," ungkapnya.
Pernyataan ini menggambarkan tantangan yang masih dihadapi dalam pengembangan teknologi AI dan infrastruktur pendukungnya, mengingat kompleksitas yang ada.
Baca juga: Meningkatkan Produktivitas: Feng Shui di Meja Kerja
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: