Pengaruh Kecerdasan Buatan dalam Industri Pariwisata di Kalangan Generasi Muda
Kecerdasan Buatan (AI) semakin berperan penting dalam industri pariwisata, terutama di kalangan generasi muda di Inggris. Survei dari Abta menunjukkan hampir 20% orang berusia 25 hingga 34 tahun memanfaatkan AI dalam merancang liburan mereka.
Baca juga: Desta Dukung Tuntutan ’17+8′ Usai Dihujat Soal Pilihan Politik
Meskipun masih banyak yang berpegang pada paket liburan tradisional, tren ini menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam cara milenial dan Gen Z memanfaatkan teknologi untuk mencari inspirasi perjalanan.
Laporan Abta mengungkapkan bahwa terdapat perubahan signifikan dalam cara milenial merencanakan liburan. Sekitar 8% responden dewasa di Inggris melaporkan menggunakan AI untuk membantu perencanaan, meningkat dari 4% tahun sebelumnya.
Penggunaan teknologi seperti ChatGPT semakin populer di kalangan pelancong berusia 25-34 tahun, yang mengandalkan AI untuk menemukan destinasi dan aktivitas wisata. Hal ini menunjukkan ketertarikan yang kuat terhadap kemampuan AI dalam memudahkan proses perencanaan perjalanan.
Abta memperkirakan bahwa penggunaan teknologi ini akan terus berkembang di masa mendatang, terutama di kalangan generasi yang menginginkan fleksibilitas dan efisiensi dalam merencanakan perjalanan.
Baca juga: Kota-Kota di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Meskipun generasi muda lebih banyak mengandalkan teknologi, generasi yang lebih tua tetap memilih sumber informasi konvensional. Hanya 3% responden berusia di atas 55 tahun yang menggunakan AI untuk mencari ide liburan.
Sebagian besar dari kelompok ini masih mengutamakan brosur cetak, dengan 25% memilih media tradisional untuk merencanakan perjalanan. Ini mencerminkan adanya kesenjangan dalam pendekatan perencanaan liburan antara generasi yang berbeda.
Kesenjangan ini merupakan tantangan bagi industri perjalanan untuk beradaptasi dan memenuhi kebutuhan beragam kelompok usia yang ada di pasar.
Dalam survei tersebut, 90% responden berusia 25-34 tahun menganggap liburan penting untuk kesehatan mental mereka, menandakan hubungan antara perjalanan dan kesejahteraan pribadi. Generasi muda tidak hanya mencari pengalaman, tetapi juga memperhatikan dampak lingkungan dari pilihan mereka.
Sebanyak 20% dari kelompok ini menyatakan bahwa komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan menjadi faktor penting dalam memilih hotel dan destinasi, sementara hanya 10% di kelompok usia lain yang memiliki pandangan serupa.
Namun, CEO Jet2, Steve Heapy, mengungkapkan bahwa biaya sering menjadi penghalang. "Semua orang ingin lebih ramah lingkungan, tapi kalau biayanya lebih mahal, mereka biasanya berpikir dua kali," ujarnya, menunjukkan bahwa meskipun kesadaran tinggi, faktor ekonomi tetap menjadi perhatian.
Baca juga: Menggali Manfaat Olahraga untuk Kesehatan Mental dan Emosional
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: