BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 02 JANUARI 2026 • 20:43 WIB

Ritual Membuang Pakaian di Gunung Sanggabuana: Tradisi yang Terus Berlanjut dan Dampaknya

Ritual Membuang Pakaian di Gunung Sanggabuana: Tradisi yang Terus Berlanjut dan DampaknyaRitual Membuang Pakaian di Gunung Sanggabuana: Tradisi yang Terus Berlanjut dan Dampaknya

Di Gunung Sanggabuana, Karawang, sedang berlangsung sebuah ritual yang unik dan menarik perhatian. Ritual ini melibatkan pembuangan celana dalam, yang dipercaya sebagai simbol pembuangan sial.

Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Terbarunya dengan Baterai 15.000 mAh dan Teknologi Chill Fan

Namun, kegiatan yang sudah lama ada ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak negatifnya terhadap lingkungan sekitar. Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah tradisi ini perlu dilestarikan atau dihentikan.

Asal Usul Ritual Membuang Celana Dalam

Ritual membuang celana dalam di Gunung Sanggabuana telah ada sejak lama dan biasanya dilakukan pada malam Jum'at kliwon atau menjelang satu suro. Nace Permana, seorang pegiat budaya Karawang, menjelaskan bahwa tradisi ini dimulai dari kepercayaan peziarah yang mandi di mata air gunung dengan harapan dapat menghilangkan kesialan.

Nace menyatakan, "Jauh sebelum saya lahir ritual itu sudah ada, dan itu dilakukan oleh orang-orang yang mempercayai mitos buang sial dengan buang pakaian usai ziarah ke makom yang ada di Sanggabuana." Awalnya, peziarah membersihkan diri di tiga pancuran di puncak gunung, kemudian mengarahkan diri untuk membuang pakaian mereka setelah mandi.

Baca juga: Inovasi Kecerdasan Buatan dalam Perawatan Keguguran

Persepsi dan Praktik Saat Ini

Kini, ritual tersebut tidak hanya dilakukan pada hari-hari tertentu, tetapi juga terjadi secara rutin, didorong oleh banyaknya peziarah dari berbagai daerah. Nace mengungkapkan bahwa, "Dulu itu biasanya orang-orang tertentu dan tidak banyak, dan bukan hanya celana dalam dan kutang biasanya juga pakaian yang dia itu dibuang."

Saat ini, praktik ini mengumpulkan peziarah di empat mata air, termasuk Pancuran Emas dan Pancuran Kahuripan, serta sejumlah makam yang terhubung dengan kepercayaan lokal. Meskipun ritual ini memiliki makna mendalam bagi praktisinya, kebiasaan membuang pakaian juga menyebabkan akumulasi sampah di daerah tersebut.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Ritual ini secara tidak langsung memberikan dampak positif pada ekonomi lokal, di mana warga setempat memanfaatkan kedatangan peziarah untuk membuka usaha kuliner dan layanan pemanduan. Nace menambahkan, "Ramainya peziarah yang datang juga sebenarnya membawa hal positif bagi ekonomi warga, jadi warung ramai yang jajan dan terkadang jadi pengantar atau guide ke pancuran dan dapat upah."

Namun, Pembina Sanggabuana Conservation Foundation, Bernarld T Wahyu, menyatakan bahwa praktik ini telah mengalami pergeseran makna dan kini menjadi alat untuk meraih keuntungan, yang berisiko bagi lingkungan. Bernarld mengungkapkan, "Ritual buang celana dalam dan kutang itu semakin menjadi-jadi bahkan kuncen-kuncen baru bermunculan dan mencari pengunjung yang akan ritual demi mendapatkan upah."

Baca juga: Koleksi Patung Superhero Anggota DPR RI Dihancurkan Dalam Penjarahan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Ritual Membuang Pakaian di Gunung Sanggabuana: Tradisi yang Terus Berlanjut dan Dampaknya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!