Rabu, 11 MARET 2026 • 17:39 WIB

Timbang Keselamatan, Indonesia Pertimbangkan Penundaan Haji 2026

Author

Timbang Keselamatan, Indonesia Pertimbangkan Penundaan Haji 2026

Kementerian Haji dan Umrah Indonesia tengah mempertimbangkan untuk menunda keberangkatan jemaah haji pada tahun 2026. Keputusan ini berakar dari meningkatnya ketidakpastian keamanan akibat konflik yang terjadi di wilayah Asia Barat.

Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam di Kota

Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa keselamatan jemaah menjadi prioritas utama dalam evaluasi rencana ini. Dalam rapat dengan Komisi VIII DPR, ia menguraikan risiko tinggi yang mungkin dihadapi jika keberangkatan tetap dilanjutkan.

Pertimbangan Keselamatan Jemaah

Menteri Irfan memberikan penjelasan terkait risiko yang dihadapi oleh jemaah haji, dengan kata-katanya yang menegaskan, "Skenario kemungkinan Pemerintah Saudi membuka, namun Indonesia membatalkan keberangkatan, dengan kondisi seperti ini karena dirisiko keamanan dinilai terlalu besar bagi keselamatan jemaah haji warga negara Indonesia."

Penting untuk mengevaluasi semua aspek yang dapat mempengaruhi perjalanan bagi jemaah. Keputusan ini tidak semata-mata hanya tentang untuk memberangkatkan, tetapi lebih kepada keselamatan warganya yang menjadi perhatian utama pemerintah.

Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Dampak Viralitas Video Joget anggota DPR

Lobi dengan Pemerintah Arab Saudi

Dalam konteks penundaan, pemerintah Indonesia perlu melakukan lobi dengan pemerintah Arab Saudi. Irfan menyampaikan pentingnya pengembalian biaya yang sudah dibayarkan agar jemaah haji dapat memanfaatkan dana tersebut pada tahun 2027.

Lobi ini penting agar tidak ada kerugian finansial bagi jemaah yang sudah berinvestasi dalam akomodasi dan transportasi. Menyadari risiko yang ada, tetap menjadi prioritas untuk memastikan setiap langkah diambil demi keamanan bersama.

Rencana Mitigasi Keberangkatan

Menteri Irfan juga menjelaskan rencana mitigasi, termasuk penyesuaian rute penerbangan. "Pemerintah nantinya harus menyiapkan mitigasi jalur udara untuk menjauhi jalur konflik seperti Irak, Syria, Iran, Israel, UAE, dan Qatar," ujarnya.

Dia menyarankan agar penerbangan dialihkan melalui jalur selatan yang akan memasuki ruang udara Afrika Timur sebagai alternatif. Koordinasi dengan pihak GACA Arab Saudi dianggap sangat penting untuk memastikan keselamatan penerbangan, meskipun ada dampak waktu tempuh yang lebih lama.

Baca juga: Ketegangan di Rapat Koordinasi Komisi XIII DPR RI Mengenai Royalti Lagu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU