Santet Dalam Era Digital: Transformasi Praktik Mistis di Indonesia
Santet, praktik mistis yang telah ada sejak lama, kini mengalami perubahan signifikan seiring dengan kemajuan teknologi. Dari cara tradisional yang melibatkan jarum dan benda-benda gaib, santet kini bergerak ke ranah digital.
Baca juga: Pentingnya Self Love untuk Hubungan yang Sehat
Kemunculan media sosial dan platform komunikasi online memberikan ruang baru bagi praktik yang dianggap menyeramkan ini. Banyak yang bertanya-tanya seberapa besar pengaruh teknologi terhadap cara penyebaran dan praktik santet di masyarakat Indonesia.
Santet dalam tradisi Indonesia telah dikenal luas sebagai praktik yang melibatkan ilmu hitam dan energi negatif. Para pelaku biasanya menggunakan benda-benda seperti jarum, sekepal garam, atau benda-benda lainnya untuk menghantarkan niat buruk kepada target.
Guna-guna seperti ini sering kali diyakini dapat berpusat pada keinginan individu yang terluka atau sakit hati. Banyak orang di Indonesia mempercayai bahwa santet dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari penyakit fisik hingga kesedihan mendalam.
Meskipun banyak yang skeptis, praktik ini tetap bertahan karena pengaruh budaya dan kepercayaan masyarakat yang kuat. Akibatnya, praktik-praktik ini masih ada meskipun dalam konteks modern.
Baca juga: Makanan Kaya Vitamin C untuk Daya Tahan Tubuh yang Optimal
Dengan berkembangnya teknologi, santet tidak lagi terbatas pada praktik di dunia nyata. Sekarang, media sosial menjadi platform baru bagi informasi dan diskusi seputar santet.
Misalnya, grup-grup Facebook atau forum di media sosial sering digunakan untuk berbagi pengalaman dan memperingatkan satu sama lain tentang potensi santet. Di sini, teman-teman online membantu satu sama lain dengan tips atau dukungan tentang cara menghindari santet.
Beberapa bahkan mengklaim bahwa mereka dapat melakukan santet secara virtual, menggunakan gambar atau nama target yang diunggah ke media sosial. Hal ini menciptakan gelombang baru dalam cara orang memandang dan berinteraksi dengan praktik ini.
Evolusi santet menjadi fenomena digital tentu menghadirkan dampak sosial yang kompleks. Sementara beberapa orang merasa aman untuk berdiskusi tentang praktik ini di platform online, ada juga yang merasa terancam oleh kemungkinan penyebaran informasi yang salah dan pencemaran nama baik.
Belum lama ini, seorang pengguna TikTok mengklaim bisa melakukan santet hanya dengan merekam video pendek. Ini menunjukkan bahwa tantangan baru muncul, baik untuk individu maupun komunitas.
Selain itu, pembuatan konten yang viral sering kali membuat ketakutan dan paranoia di kalangan masyarakat. Praktik-praktik seperti ini dapat memperburuk suasana sosial dan menciptakan ketidakpercayaan di antara anggota komunitas.
Baca juga: Ketegangan di Rapat Koordinasi Komisi XIII DPR RI Mengenai Royalti Lagu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: